Sep 17 2010

AYO…, MENINGKATLAH LEBIH BAIK

Published by at 9:14 am under Tajuk

Ramadhan 2010 telah meninggalkan kita. Tibalah kemudian bulan Syawal yang saat ini kita jalani. Kami, atas nama krew UII News menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin, Taqabbalallahu minna wa minkum, Ja’alanallah Minal ‘Aidin wa al-Faizin (Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan anda, Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang kembali fitrah dan orang yang beruntung).

Hari Raya Idul Fitri yang bermakna hari kembali ke kesucian (fitrah), hari-hari untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan terus berupaya mempertingkatkan kualitas diri. Hal ini sangat linear dengan makna Syawal yang secara bahasa memang bermakna meningkat atau mengangkat. Ini maknanya bahwa setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh, tujuan puasa untuk menjadi pribadi yang bertakwa diharapkan dapat tercapai pada awal bulan Syawal.

Syawal sebagai bulan peningkatan kualitas, mestilah merujuk pada standar yang ditetapkan ajaran Islam, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW yang intinya adalah harus selalu menuju lebih baik, hari ini harus lebih baik daripada kemarin, hari esok harus lebih baik daripada hari ini. Hari demi hari berlalu begitu cepat. Tahun berganti tahun. Detik demi detik, menit ke menit, jam ke hari, bulan berlalu berganti tahun. Baru kemarin anak-anak, kini beranjak dewasa. Tak disadari saat fisik masih kuat, kini renta. Oleh karena itu, hidup harus bermakna dan berkualitas. Sayangnya, penyesalan memaknai hidup dan meningkatkan kualitasnya tidak selalu datang sejak awal, kesadaran kerap datang terlambat.

Karenanya, tidak sepantasnya menyambut Idul Fitri dengan pesta pora. Semakin bertambah umur, kian berkurang jatah hidup di dunia. Kita harus banyak merenung, introspeksi, dan berbenah dari kesalahan. Islam mengajarkan agar kita selalu merencakan masa depan dengan berbasis pengalaman masa lalu (QS Al-Hasyr: 18). Masa depan di sini bukan hanya hari esok untuk kehidupan dunia, namun ingat juga bekal untuk kelak di akhirat.

Hidup hanya satu kali saja! Oleh karena hidup itu harus berkualitas dan bernilai tinggi. Ada ungkapan bijak mengatakan “rencanakan apa yang kamu lakukan, lakukan apa yang kamu rencanakan!”. Namun sayangnya, kebanyakan manusia jarang membuat perencanaan hidup secara matang. Hidup dilalui mengalir saja. Hal sama juga terhadap ibadah yang dilakukan. Semua dijalani mengalir begitu saja tanpa adanya manajemen hidup dan ibadah yang baik. Akibatnya, hidup yang ditempuh seperti jalan di tempat. Tidak ada peningkatan berarti. Demikian juga ibadah yang dilakukan tidak mendapat hasil yang baik karena tidak direncanakan dengan baik. Shalat tidak mencapai khusyuk, zakat tidak maksimal, puasa tidak mencapai taqwa, dan haji tidak mabrur. Kata Imam Ali r.a. “Kebenaran yang tidak dilakukan secara sistematis, akan dikalahkan oleh kebatilan yang sistematis.” Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas hidup dan ibadah, harus diterapkan manajemen yang baik terhadap hidup dan ibadah yang kita jalani.

Syawal adalah momentum yang sangat tepat untuk meningkatkan kualitas hidup. Ibarat ulat yang bertapa menjadi kepompong, selanjutnya menjadi kupu-kupu yang dapat terbang dan berparas rupawan, seorang mukmin setelah bertapa dengan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, selanjutnya menjelma menjadi pribadi yang bertakwa dan kembali suci pada Idul Fitri di bulan Syawal. Ketakwaan dan kefitrahan itu haruslah tetap dipelihara sepanjang tahun agar benar-benar menjadi pribadi yang sukses di dunia dan di akhirat. Di antara cara untuk menjaga hal itu, kita dapat merujuk pada formula yang dikemukakan Dr Ibrahim Hamd al-Qu’ayyid dalam bukunya, yaitu al-’adah al-asyru li al-syakhsiyyah al-najihah, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi 10 Kebiasaan Manusia Sukses Tanpa Batas. Ini seperti sevent habits-nya Stephen Covey, akan tetapi yang dirumuskan Ibrahim Hamd telah disesuaikan dengan ajaran Islam.

10 Kebiasaan Manusia Sukses Tanpa Batas tersebut adalah, (1) berusaha mencapai keunggulan. Keunggulan dalam  iman, keahlian, pengetahuan, dan hubungan positif dengan orang lain. (2) menentukan tujuan, baik tujuan yang terkait dengan ketuhanan, sosial, dan individual. (3) menyusun prioritas. Karena pada prinsipnya, aktivitas itu ada yang bersifat sangat penting, penting - tidak dapat ditunda, dan penting tetapi dapat ditunda. Oleh karena itu, skala prioritas harus disusun dengan baik. (4) Membuat rencana (planning), baik planning seumur hidup, planning 3-5 tahun, tahunan, bulanan, pekanan, maupun harian. (5) Fokus, yaitu memfokuskan perhatian pada tugas, tanggungjawab atau pekerjaan yang sedang ada di hadapan sampai final. Tidak menunda pekerjaan.

Selanjutnya yang ke-(6) manajemen waktu (7) berjuang melawan diri sendiri. Yaitu berusaha terus-menerus mengalahkan, menaklukkan,mengendalikan, dan membiasakan diri menghadapi dan mengemban sejumlah tanggungjawab, berpegang teguh pada prinsip dan nilai, serta bersabar dalam menghadapi kewajiban yang ada dengan tujuan mewujudkan kehidupan yang mulia. (8) Kepiawaian berkomunikasi, baik keahlian berbicara maupun mendengar. (9) berpikir positif, dan terakhir (10) seimbang, yaitu moderat dan proporsional. Dengan menerapkan 10 kebiasaan tersebut, sesuai dengan makna Syawal, insyaAllah kualitas hidup kita akan terus meningkat, sehingga kesuksesan, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat insyaAllah dapat kita raih. Semoga...(Nur Kholis).


Pemred UII News: Nur Kholis

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*