Jul 17 2010

Rencana Yang Mengubah

Published by at 9:03 am under Tajuk

Para pemimpin yang memegang amanah kepemimpinan UII hasil pesta demokrasi beberapa waktu yang lalu, pada bulan Juni ini dan Juli nanti melakukan rapat kerja (raker) yang intinya adalah membuat rencana yang terbaik untuk UII tercinta. Bulan Juni ini raker pimpinan tingkat Universitas. Bulan Juli depan raker pimpinan tingkat fakultas. Rencana tersebut dibagi dua, yaitu rencana strategis (renstra) dan rencana operasional (renop). Renstra berisi arah dan tujuan dalam jangka panjang. Renop berisi rencana tindakan yang lebih operasional berjangka lebih pendek sebagai turunan dari renstra. Dalam aliran teleologi, suatu rencana dipercaya dapat memacu terjadinya perubahan. Ini karena, suatu rencana yang baik, yang didukung oleh target-target yang terkendali dapat menggerakkan seluruh energi ke titik yang sama. Ini artinya, rencana (planning) merupakan sesuatu yang sangat penting untuk melakukan perubahan. Standar perubahan yang dibenarkan Islam (sebagaimana sabda Rasul) adalah selalu menuju lebih baik, hari ini harus lebih baik daripada kemarin, hari esok harus lebih baik daripada hari ini.

Tentu saja, rencana yang dimaksud bukanlah sekedar rencana, tetapi rencana yang dapat memacu perubahan adalah rencana yang mengandung tiga hal, yaitu: filosofi, prioritas, dan disiplin. Tiga hal itu menjadi syarat untuk menjadikan rencana yang dibuat mampu mengubah keadaan, demikian menurut Rhenald Kasali dengan mengutip leadership style Syeikh Muhammad Rashid Al-Maktoum ketika mengubah Dubai yang semula padang pasir menjadi Hongkong of the Middle East.

Filosofi diperlukan untuk menetapkan apa yang menjadi landasan berpikir untuk melihat masa depan di tengah-tengah ribuan pilihan yang sama pentingnya. Setiap pemimpin mempunyai cara berpikir yang berbeda-beda dan pada saat yang bersamaan akan mengalami pilihan-pilihan yang saling bertentangan satu dengan lainnya. Oleh karena itu, filosofi menjadi sangat penting. Pemimpin adalah seorang yang visioner. Ia tidak hanya melihat dengan mata biasa, tetapi haruslah melihat dengan mata possibility, yaitu melihat dengan kekuatan yang mungkin menggerakkan perubahan karena di tangannya ada kekuasaan dan penguasaan sumber daya. Dengan mata possibility-nya ini, tidak ada yang mustahil untuk diubah oleh pemimpin. Pemimpin tidak bisa hanya melihat dengan mata probability, seperti para analis dan komentator, atau dengan mata persepsi yang hanya dapat melihat yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan.

Prioritas diperlukan untuk menetapkan mana yang paling penting di antara hal-hal yang penting dilakukan. Jika gagal menetapkan prioritas, maka kemungkinan besar akan gagal juga mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam konteks ini, perlu diingat hukum pareto yang dicetuskan Vilvredo Pareto. Inti hukum pareto adalah yang sedikit (+20%) akan memberi hasil terbesar (+ 80%). Implementasinya dalam konteks membuat rencana kerja adalah perlu mencari 20% kegiatan yang diprioritaskan karena akan menyumbang 80% keberhasilan. Jika dalam raker tersebut, pemimpin UII mampu menemukan yang 20% kegiatan untuk benar-benar diprioritaskan, maka 80% keberhasilan akan segera diraih. Rhenald Kasali menegaskan, jika anda gagal membuat rencana yang action oriented, maka anda merencanakan kegagalan.

Disiplin diperlukan karena ia merupakan modal penting untuk perubahan. Disiplin tidak efektif kalau hanya sendiri, ia harus berteman dengan budaya, sehingga yang muncul adalah budaya disiplin (culture of discipline). Budaya disiplin harus membumi di UII. Sebaik apapun rencana kerja yang dihasilkan dalam rapat kerja (raker) tidak akan mampu dicapai secara optimal tanpa adanya budaya disiplin dalam tubuh organisasi UII.

Untuk mengisi ruang batin kita dalam melaksanakan hasil raker nanti, ada baiknya kita menyimak mekanisme to have - to do. Keinginan manusia pada umumnya berujung pada keinginan untuk mempunyai atau memiliki (to have). Untuk mewujudkan keinginan tersebut, harus ditindaklanjuti dengan to do (melakukan sesuatu). Itu adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan. Itu adalah mekanisme yang logis dan wajar. Ini saya kemukakan dengan maksud agar hasil raker yang mungkin sangat baik itu, nanti tidak hanya “baik sebagai rencana di atas kertas”, tetapi benar-benar dilaksanakan dalam bentuk aksi nyata yang terkontrol dengan baik. Kalau kita ingin to have seperti yang tercantum dalam hasil raker, maka to do-nya harus sungguh-sungguh. Karena perlu diingat bahwa realitasnya to do tidak serta merta atau selalu happy ending dengan to have. Allah menuntut to do yang berkualitas tinggi agar ditukar dengan anugerah-Nya berupa jalan-jalan yang terbentang luas menuju apa yang kita inginkan. Allah menuntut kesungguhan, keikhlasan, kesabaran, ketekunan, dan kekuatan dalam kerja yang kita lakukan. Allah berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69). Semoga Allah meridoi semua rencana kita dan menyukseskan kita (dengan limpahan rahmat dan inyah-Nya untuk mewujudkannya. Amin. (Nur Kholis)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*