Jul 17 2010

Menegakkan Keadilan Mengedepankan Nurani

Published by at 9:07 am under Kiprah

Saat ini, Ari Yusuf Amir adalah salah seorang kuasa hukum Komisaris Jenderal Susno Duadji. Dia juga pengacara Antasari Azhar, mantan Ketua KPK. Selain itu dia banyak menangani kasus-kasus yang melibatkan tokoh controversial, seperti Ketua FPI Habib Rizieq, Abu Bakar Baasyir dan lainnya. Siapakah Ari Yusuf Amir?

Dia sosok pria kelahiran Palembang,19 Oktober 1971. Sejak kecil memang punya cita-cita menjadi advokat. “Sejak kecil saya memang bercita-cita menjadi advokat. Kata keluarga saya, sejak kecil saya ini cerewet dan banyak bicara, cocok kalau jadi advokat. Saya melihat profesi advokat itu sangat mulia,” akunya.

Ari menghabiskan masa sekolahnya hingga sekolah menengah atas di Palembang, Sumetera Selatan. Kemudian merantau, tahun 1990 melanjutkan pendidikan tinggi di Yogyakarta, tepatnya di Universitas Islam Indonesia (UII). Fakultas Hukum menjadi pilihannya, kata Ari seperti dikutip Majalah FORUM Keadilan.

Tak seperti kebanyakan anak-anak yang sering berganti cita-cita, Ari sangat konsisten dengan impiannya itu. Tak heran Ari yang aktif di HMI saat mahasiswa, berupaya mencari pengalaman untuk menambah bekal keilmuan dan kemampuan sebagai advokat. Lantaran itulah, ketika Ari muda dan belum menyandang gelar sarjana hukum, dengan mudah mendapat pekerjaan. “Teman-teman lain belum bekerja, Alhamdulillah saya sudah bekerja.”

Keterlibatannya dalam perkara Antasari dirasakan sebagai sebuah keharusan. “Saya mengenal Antasari sudah lama, sejak dia masih menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Saya banyak berdiskusi dengannya. Menurut saya, Antasari adalah satu dari sedikit jaksa yang memiliki idealisme, integritas, dan semangat. Berteman dengan dia itu asyik, saya sering berdiskusi dengannya,” kata Ari
Menjadi pembela Antasari bukan pula urusan enteng. Selain menguras energi, ancaman juga menghampirinya. Bagusnya, soal seperti ini sudah biasa baginya. Sebab masalah yang sama juga terjadi saat dia menjadi kuasa hukum sejumlah tokoh yang kontroversial di negeri ini. Misalnya Habib Riziq, Abu Bakar Baasyir, Jafar Umar Thalib, dan sejumlah tokoh lainnya.

Semuanya dijalani dan dihadapinya. Sebab dia yakin kliennya tak bersalah. “Sudah prinsip bagi saya, saya harus yakin terlebih dahulu bahwa setiap orang yang saya bela itu benar. Bila di pengadilan nantinya terbukti atau tidak, itu masalah lain, karena itu urusan pengadilan. Tetapi jika saya sendiri tak yakin klien saya benar, saya tak punya keberanian untuk membelanya. Jika saya yakin, maka apapun akan saya hadapi.”

Dalam perjalanan kariernya, Ari menemukan banyak dalam dunia hukum di negeri ini. Salah satu yang sangat memprihatinkan adalah soal mafia peradilan yang tumbuh begitu suburnya.

Karena itu Ari berpendapat, sudah waktunya semua penegak hukum harus sepakat mafia peradilan harus diberangus. “Lawyer memiliki peranan penting di sini. Kita bisa bersaing secara sehat, lawyer yang pintar, lawyer yang menguasai materi, yang betul-betul bekerja, dia bisa tampil,” katanya. “Jadi bukan lawyer yang dekat dengan hakim, yang punya modal buat nyogok.”

Ari bersyukur, perjalanan kariernya banyak diisi pengalaman yang sangat berharga. “Ketika saya di Yogya, saya sempat bekerja di LPH (Lembaga Pembelaan Hukum), lembaga milik pak Artijo Alkostar yang sekarang menjadi hakim agung. Saya banyak belajar dari beliau, pak Artijo itu guru saya.”

Masalah idealisme, saya banyak belajar dan berdiskusi dan diajarkan pak Artidjo. Dalam menangani perkara jangan berorientasi klien harus menang, tetapi harus berorientasi membela sebaik mungkin, semaksimal mungkin. Itu yang harus kia lakukan. Ketika di LPH, Ari ikut terlibat dalam advokasi kasus pembunuhan Udin, Wartawan Harian Bernas, Yogyakarta.

Meski memprihatinkan, Ari berharap kondisi hukum di Indonesia akan membaik kelak. Dalam soal penegakan hukum ini, Ari berpegang pada “petuah” seorang filosof Plato. Dalam bukunya Republika, Plato mengatakan, cita-cita hukum tidak mungkin bertentangan dengan cita-cita keadilan.

Ari, kini memimpin lembaga jasa hukum sebagai Managing Partner yang biasa menangani perusahaan-perusahaan asing dan nasional serta Badan Usaha Milik Negara, yaitu Law Firm Ail Amir & Associates dan Ari Yusuf, Singajuru & Partner. Juga pernah menulis buku Strategi Bisnis Jasa Advokat, Maret 2008. Bagi Ari, menjadi pengacara adalah bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat. Di mana pun dan siapa pun yang membutukan uluran tangannya, dia tak menampik.

Kendati demikian sibuknya, Ari tetap menomorsatukan keluarganya. Setiap akhir pekan selalu bersama istri dan tiga putranya. Ari sangat mensyukuri pada apa yang sudah diperolehnya selama ini. “Saya berpegang pada Al Quran Surah Al Insyaraah ayat 8,” katanya. Bunyi ayat itu: Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap.

Ari Yusuf Amir

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*