Feb 17 2010

Pusat Kebudayaan UII

Published by at 8:43 am under Tajuk

Dinamika kompetisi antar perguruan tinggi di Indonesia dan di tingkat global makin sengit dan keras. Tidak hanya mengandalkan kepada dimensi keunggulan akademik yang disimbolkan dengan prestasi-prestasi karya/paten bertaraf internasional, tetapi keunggulan komparatif yang ditunjukkan melalui atmosfir akademik termasuk lingkungan kampus yang nyaman, kultural dan inspiratif. Apabila kita berkunjung ke berbagai kampus bereputasi internasional di Eropa, Amerika dan beberapa negara di Asia, suasana yang terasakan, disamping kuatnya tradisi akademik, juga atmosfir lingkungan kampus yang kokoh secara fisik dan khas/unik secara arsitektural dan kultural.

Sebagai contoh, National University of Singapore, universitas terbaik di Asia Tenggara telah memiliki pusat kebudayaan yang megah dengan misi yang kuat terkait pengembangan kebudayaan negara setempat dan interaksi seni dan atmosfir akademik. UII tentu dapat mengadopsi ide ini. Dalam publikasinya di website, NUS culture center didirikan tahun 2000 dengan tujuan: serves as a vibrant, innovative performing arts venue for high-quality events that reflect both the rich cultural heritage of Singapore and the best in international arts and entertainment.

Yogyakarta adalah salah satu kota warisan dunia yang memiliki banyak keunggulan termasuk sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan Jawa, yang memiliki relasi kuat dengan kebudayaan transnasional. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara memilih berkunjung ke kota ini tidak hanya untuk melakukan visitasi sosial tetapi juga kebudayaan, yang hanya dimungkinkan pada kota Yogyakarta, tidak pada kota lain. Lebih dari 160 perguruan tinggi di Yogyakarta turut memberi warna khas Yogyakarta dan sekaligus berkompetisi untuk meraih kunjungan sebagai bagian dari promosi eksistensi diri.

Temuan situs candi yang kemudian diberinama “PUSTAKASALA” merupakan salah satu anugerah terpenting UII akhir tahun 2009. Disebut anugerah, karena tidak diprediksi sebelumnya. Keunggulan yang dimiliki situs candi ini dibandingkan situs lain memperkaya khasanah atmosfir kampus yang berlabel Islam. Banyak pihak meyakini, temuan situs ini merupakan modal sosial yang akan memperkuat eksistensi UII sebagai kampus rahmatan lil’alamin dalam beragam konteks. Kita semua patur bersyukur.

Hingga tulisan ini diturunkan, berbagai gagasan dan rencana telah menyertai proses ekskavasi situs yang dilakukan pemerintah dan salah satunya adalah pengembangan pusat kebudayaan UII. Temuan candi PUSTAKASALA hanyalah momentum untuk menghidupkan kembali gagasan ini, yang sudah pernah penulis atau pihak lain munculkan, misalnya gagasan menjadikan kawasan kampus UII Demangan sebagai pusat kajian dan apresiasi kebudayaan Islam. Implementasi gagasan genial ini, nantinya tentu tidak bertumpu pada kepentingan eksploitasi, komodifikasi situs candi atau potensi lain yang mengikutinya, akan tetapi justru berakar kepada penguatan konsep rahmatan lil’alamin itu sendiri.

Adalah penting dilakukan saat ini: mengidentifikasi potensi kreatif dan karya-karya kebudayaan yang sudah pernah lahir di kampus tertua ini, yang menjadi bahan baku bagi keberadaan pusat kebudayaan Islam, yang berbasis di UII. Sacara historis, kita yakin tetap ada keterkaitan antara eksistensi situs candi dengan perkembangan “keindonesiaan” yang kemudian membuat komunitas Islam lebih dominan hadir. Mencari korelasi dan kemudian mencoba mengapresiasi sejarah interaksi ketika Islam masuk ke Indonesia merupakan pintu masuk penting untuk menyatukan lingkungan candi dan ruang-ruang lain disekitarnya, yang nanti harus disediakan jika gagasan pusat kebudayaan itu disetujui.

Akhirnya, momentum terpilihnya Rektor UII yang juga merupakan pejabat rektor sebelumnya, Prof. DR. Edy Suandi Hamid, M.Ec, merupakan simbol apresiasi bagi gerakan internasionalisasi UII yang salah satunya jelas berbasis kepada keunggulan komparatif. Artinya, jika semua pihak setuju, pusat kebudayaan UII harus menjadi salah satu program penting untuk dipertimbangkan. Apalagi UII sudah memiliki pusat kajian bahasa dan budaya CILACS, FPSB dan sebagainya. Selanjutnya, semua pihak yang peduli terhadap khazanah kebudayaan Islam dalam makna yang luas, perlu berdiskusi untuk menemukan karakteristik, differensi pusat kebudayaan (culture center) UII dibanding yang lain yang dapat mendorong intensifnya kunjungan publik ke kampus UII. (Pemred UII News, Masduki)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*