Jan 17 2010

Dicari Rektor yang Berkomitmen Membesarkan UII

Published by at 8:40 am under Refleksi

Salah satu keprihatinan saya dalam beberapa tahun terakhir ini adalah tidak berkembangnya jumlah mahasiswa (student body) UII. Ketika saya buka lagi Warta Kampus, yang merupakan media internal UII sebelum berubah menjadi UII News, khususnya edisi Mei 1996, saya temukan pernyataan bahwa UII merupakan kampus yang terbesar kedua di Yogyakarta. Seingat saya, berdasar beberapa pidato Prof. Zaini Dahlan, MA (Rektor UII waktu itu), saat itu student body UII sekitar 24.000 mahasiswa. Empat belas tahun berikutnya, tepatnya 2010 ini, jumlah mahasiswa UII tetap saja (atau menurun) menjadi sekitar 22.000 mahasiswa.

Di sisi lain, perguruan tinggi lain banyak yang melesat perkembangannya. Sebagai contoh, pada tahun 1995 jumlah mahasiswa UGM sekitar 32.000. Sekarang jumlah mahasiswa UGM bertambah 100%-nya. Lebih mengesankan Universitas Ahmad Dahlan. Pada tahun 1995, jumlah mahasiswa PT yang sebelumnya bernama IKIP Muhammaduyah Yogyakarta ini tak sampai 2.000 orang. Kini mahasiswa mereka lebih kurang 15.000 orang. Ada angka yang saya telusur yang menyebutkan jumlah mereka mencapai 26.000 orang. Mereka tumbuh berkembang sekitar 700%.
Urutan jumlah mahasiswa UII saat ini pun bukan lagi nomor kedua se DIY atau swasta terbesar di Yogya sebagaimana tahun 1990-an. Saya rasa urutan UII di Yogyakarta saat ini kalau tidak nomor tiga ya nomor empat. Yang pasti melewati dan kini jauh meninggalkan UII adalah Universitas Negeri Yogyakarta. Universitas Ahmad Dahlan adalah PT yang sering menyebut dirinya the greatest university in Kopertis 5, baik via internet maupun pertemuan sehar-hari dengan dosen, mahasiswa, dan alumni mereka.

Fenomena lain yang tampak adalah dulu UII jauh di atas UMY, UPN, dan Atmajaya. Namun, mereka bergerak lebih cepat sehingga jumlah mahasiswanya hampir menyamai UII.

Tanpa mengabaikan indikator lain (seperti banyaknya mahasiswa asing, peran aktif mahasiswa dalam kehidupan bersama, banyaknya publikasi dosen, banyaknya guru besar, peran alumni dalam masyarakat), masalah jumlah mahasiswa ini termasuk salah satu indikator penting untuk menyebut besarnya suatu kampus. Besarnya jumlah mahasiswa memberikan pengaruh dalam banyak hal. Pertama, ia menjadi sumber pendapatan UII. Bahkan dengan jumlah yang banyak biaya pendidikan dapat lebih ditekan. Kedua, di antara yang banyak itu UII dapat memilih yang berpotensi untuk berkembang sehingga mengharumkan nama UII, Islam dan Indonesia tentunya. Ketiga, jumlah promotor calon mahasiswa UII semakin banyak. Beberapa penelitian institusional UII menunjukkan pengenalan calon mahasiswa terhadap UII sebagian terjadi melalui informasi dari mulut ke mulut. Mahasiswa, salah satu yang banyak berjasa mengenalkan UII kepada calon pendaftar.

Mengapa Terjadi?

Mengapa terjadi penurunan jumlah mahasiswa UII? Ada beberapa hal yang saya rasa menjadi penyebab jumlah mahasiswa UII terus menurun. Penyebab utama, tidak adanya keberanian untuk membuka program studi baru. Pada tahun 1990-an, pimpinan UII memiliki keberanian untuk mengambil inisiatif dan tentu saja mengambil resiko untuk membesarkan UII dengan menambah fakultas/program studi baru. Pada rentang 1995-2001 misalnya berdiri tiga fakultas yang saat itu dan terutama di belakang hari memberikan sumbangan yang sangat signifikan terhadap jumlah total mahasiswa UII. Pada rentang masa tersebut berdiri Fakultas Psikologi (yang belakangan berkembang menjadi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya) dengan prodi psikologi. Fakultas MIPA dengan tiga program studi, yaitu Prodi Statistika, Ilmu Kimia, dan Farmasi. Fakultas Kedokteran dengan Prodi Pendidikan Dokter. Masih ada beberapa program studi lain yang berdiri dalam rentang lima tahun ini, yaitu Prodi Informatika, Teknik Lingkungan. Dalam rentang waktu yang sama, 2005-1010, pimpinan UII tidak melakukan satu pun penambahan program studi S1. Beberapa proposal program studi S1 yang diusulkan mental dan tertolak, seperti Sastra Inggris, Pendidikan Bahasa Inggris, Kedokteran Gigi, dan sebagainya. Beberapa program studi sempat menjadi pembicaraan, namun wacananya tidak sempat membesar karena yang sudah siap saja ditolak apalagi yang baru wacana, seperti Sistem Informasi, Planologi, dan sebagainya.

Penyebab kedua, keberpihakan khusus kepada developing departments (sebagian orang menyebutnya prodi-prodi dhuafa). Lebih kurang sepertiga dari 21 program studi S1 UII masuk dalam kategori ini. Gambaran terpenting dari prodi-prodi kelompok ini, minimnya peminat/pendaftar. Mengapa minat menurun? Jawabnya mungkin kemampuan berkompetisi yang belum optimal. Sebagai gambaran, saya bertemu dengan seorang dosen sekolah tinggi agama Islam di salah satu kota di Jawa Tengah. Saya bertanya berapa jumlah mahasiswa yang bisa diperolehnya dari tiga jurusan di kampusnya. Ia menjawab: sekitarr 600 orang. Kesimpulan saya, peminat prodi agama tetap banyak. Peminat prodi-prodi lain yang selama ini terkategori developing departments IA juga banyak. Yang menjadi persoalan, bagaimana menarik minat calon untuk mendaftar di UII. Selama ini upaya promosi UII di tingkat rektorat belum memperhatikan kondisi khusus pada prodi-prodi berkembang tersebut. Harus ada upaya khusus untuk menarik calon mahasiswa pada prodi-prodi tersebut dengan pendekatan khusus. Tidaklah tepat kalau cara promosi prodi mapan dengan prodi yang terkategori developing departments. Dalam forum ini saya tidak bisa memberi penjelasan yang detail. Sebagai contoh, salah satu pendekatan yang berani yang pernah saya dengar, membagi dua jenis mahasiswa unggulan UII. Pertama, mahasiswa PP yang ada seperti sekarang ini (minus mahasiswa dari FIAI). Kedua, menjadikan seluruh mahasiswa FIAI sebagai mahasiswa unggulan. Indikator pentingnya, proses belajarnya menggunakan metode pengayaan (enrichment) atau percepatan (acceleration) dan gratis! Inti gagasan saya, adanya keberanian mengambil langkah membantu pemberdayaan prodi yang terkategori developing departments.

Penyebab ketiga, banyaknya mahasiswa passing out. Statistik pendaftar UII dari tahun ke tahun meningkat lebih kurang 5%. Namun, fakta lain yang selama ini tidak mendapat pencermatan, besarnya jumlah mahasiswa yang registrasi namun tidak pernah masuk ke ruang kelas atau tidak mampu bertahan di UII lebih dari dua tahun (yang sebagian besar di antaranya karena tidak mampu secara finansial. Jumlahnya mencapai sekitar 15-20%. Intinya, sekalipun yang mendaftar ke UII meningkat, namun jumlah yang keluar sejak dini ternyata jauh lebih banyak. Kondisi demikian akan membuat jumlah mahasiswa terus menurun, kecuali dengan langkah penambahan program studi baru.

Dicari Rektor yang Membesarkan UII

Apa yang saya ungkap hanya satu problem riil UII. Saya berharap dalam memilih rektor periode 2010-2014 nanti kita dapat memilih rektor yang dapat membesarkan UII. Adapun karakteristik rektor yang saya dapat sebutkan sebagai berikut. Pertama, berani melakukan terobosan untuk membesarkan UII dengan membuka program studi baru. Pembukaan program studi, pilihan rasional untuk tetap membawa UII menjadi perguruan tinggi yang besar dan disegani. Rasionalitas yang paling penting bagi calon mahasiswa program studi apa yang ditawarkan UII yang sesuai dengan mereka.

Semakin banyak yang sesuai semakin mungkin mereka mendaftar ke UII

Kedua, proporsionalitas perhatian ke dalam dan keluar. Setuju dengan apa yang disampaikan Ketua PYBW dalam buka puasa bersama di suatu kesempatan, pimpinan UII (Rektor UII tentunya) perlu memberikan porsi yang lebih proporsional antara aktivitas eksternal dan internal. Menurut saya, baik dan bahkan sangat baik bila Rektor UII menjalin kemitraan dengan lembaga lain, tapi jangan sampai hanya ada sisa tenaga untuk urusan internal. Baik dan sangat baik menjalin kemitraan dengan lembaga lain, namun dampaknya harus terukur dan dapat dirasakan oleh UII. Apa yang sudah ada di dalam UII harus di-openi, dikelola dengan sungguh-sungguh, sehingga sumber daya kita – salah satu yang terpenting adalah jumlah mahasiswa.

Ketiga, kemampuan mengakomodasi, mengkonsolidasi dan mensinergikan sumber daya yang dimiliki UII. Rektor UII kita harapkan dapat menggunakan segala sumber daya yang dimiliki UII, termasuk orang-orang yang mengambil posisi oposan, untuk membesarkan UII. UII harus sebanyak mungkin membuat arena beraktivitas dan berkreativitas untuk semua SDM-nya. Ia hendaknya punya kepemipinan dan kemampuan manajerial yang cukup sehingga sumber daya yang banyak dan umumnya berjiwa mandiri ini dapat melakukan aktivitasnya dan memenuhi tanggung jawabnya. Rektor UII masa depan harus memberi jalan yang lempang bagi munculnya berbagai pusat studi/pusat kajian/pusat penanganan krisis baru.
Bagaimana menurut Anda?

H. Fuad Nashori, dosen Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII.

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*