Dec 17 2009

Menyongsong Pilrek

Published by at 8:39 am under Refleksi

Sebulan lagi kita akan memasuki pesta demokrasi Pemilihan Rektor (Pilrek) di lingkungan UII. Menurut rencana pesta empat tahunan babak awal tersebut akan digelar tanggal 21 Januari 2010. Namun yang terkesan dan kita rasakan sampai saat ini masih sepi-sepi saja, lain dengan Pilrek empat tahun lalu. Mudah-mudahan bukan karena apriori sebagian besar warga UII karena perubahan Statuta, yang notabene mereka kehilangan hak pilihnya secara langsung.

Bahkan sempat beredar kabar (rumor) bahwa dari pihak mahasiswa akan melepaskan diri dari sistem Pilrek periode sekarang ini. Mereka cenderung tidak melibatkan diri dalam proses pemilihan karena merasa tidak ada signifikasinya suara/peran mereka. Mahasiswa telah menentukan jalan untuk tidak menggunakan hak pilihnya, dan akan memainkan peran sebagai fungsi kontrol, bila terjadi kesalahan dalam pemilihan figur pimpinan UII. Namun hal tersebut masih rumor sehingga sangat disayangkan apabila terjadi.

Sebagai refleksi. Pilrek periode lalu gaungnya sangat kencang sehingga suasana demokratisnya sangat terasa, baik mulai dari pembahasan aturan, bursa pencalonan, debat calon, hak pilih, bahkan sampai proses pemilihan terasa sangat grengseng, menumbuhkan semangat tersendiri di kalangan komunitas UII. Namun hal ini tidak terasa lagi dengan pola yang diselenggarakan sekarang. Bahkan dikhawatirkan perubahan statuta tersebut sarat muatan politisnya (setuju pendapat 'Pak Pardi' pada Kolom Refleksi UII News edisi 79 Th VII, November 2009 ~ Beban Statuta), sehingga penerapan Statuta banyak menanggung beban.

Pertanyaan lain, apakah sepinya Pilrek kali ini karena kurangnya sosialisasi, atau sebab lain, atau karena perubahan sistem pemilihan yang dikembalikan pada tatanan Statuta lebih kurang tujuh tahun lalu, bukankah ini merupakan kemunduran? Dimana Pilrek 2005 sudah menunjukkan pola yang demokratis, dan seluruh komunitas UII (Dosen, Karyawan dan Mahasiswa) terlibat langsung dalam prosesi pemilihan.
Kembali pada koreksi sistem Pilrek 2005, proses pemilihan sebenarnya cukup berjalan relatif lancar, meskipun sempat memunculkan riak-riak kontroversi. Sedang pada sistem pemilihan mendatang memungkinkan terjadinya mismatch antara aspirasi civitas akademika UII (dosen, mahasiswa) dan komunitas lain yaitu karyawan dengan keputusan akhir dari para anggota senat dan pengurus Yayasan. Semacam ada kemiripan keputusan Dewan Perwakilan Rakyat yang sering bertolak belakang dengan harapan para konstituennya.

Namun demikian tentu bukan saatnya lagi kita untuk menengok ke belakang. Bagaimanapun juga, aturan dan keputusan sudah ditetapkan. Masih banyak persoalan yang mesti diselesaikan oleh rektor terpilih nantinya. Melihat kompleksitas permasalahan yang ada, kita dapat membuat puluhan-bahkan mungkin ratusan list-masalah yang mesti dicarikan solusinya. Beberapa diantaranya adalah bagaimana menumbuhkan atmosfer ilmiah akademis dikalangan civitas akademika UII, kampus harus memiliki tradisi keilmuan yang kuat dan kondusif. Sebagai contoh, pihak birokrat kampus dapat membuat program optimalisasi fasilitas penunjang pembelajaran seperti modernisasi perpustakaan dan ekspansi Hotspot Area. Hal ini penting mengingat perkembangan Ipteks yang begitu pesat dan masif.

Sebagai pencetak calon agent of change, memberi bekal kepada mahasiswa dengan berbagai macam ilmu pengetahuan merupakan sebuah keniscayaan. Proses pendidikan yang baik dapat menghasilkan out put yang sarat kreatifitas dan tidak apriori terhadap norma-norma yang ada. Disinilah pentingnya dukungan terhadap lembaga dan unit-unit pendukung terutama yang bergerak dibidang ke-Islaman. Suka atau tidak suka, disengaja maupun tidak, status Badan Hukum Pendidikan yang segera disandang UII menjadikan pertimbangan baru. Program jalur mandiri dan Hibah harus terus digenjot untuk optimalisasi pembiayaan operasional kampus. Rektor kedepan mestinya berfikir keras agar putra-putri bangsa tetap dapat mengenyam bangku Perguruan Tinggi (PT) tanpa khawatir dengan biaya.
Baik buruknya wajah UII sedikit banyak tergantung dari komunitas yang ada. Ketika ada permasalahan, mesti ada kearifan dari jajaran pimpinan. Bukan sikap emosi apalagi saling salah-menyalahkan. Selain itu, rektor sebaiknya juga memberikan perhatian lebih terhadap para pegawai, bahkan termasuk para pensiunan. Bentuk perhatian tersebut misalnya Kenaikan gaji ke-13 yang selalu dipertahankan, kenaikan gaji sesuai aturan pemerintah secara reguler juga harus dipertahankan, penyesuaian adanya remunerasi pegawai, kenaikkan penerimaan pensiun yang progresif, keikutsertaan pensiunan dalam aktivitas ekstra UII termasuk misalnya rekreasi yang diadakan di tiap-tiap fakultas.

Dalam perjalanan empat tahun terakhir, perubahan demi perubahan dapat dicatat sebagai cerminan pola peningkatan mutu yang diinginkan di bidang akademik, antara lain implementasi Program Dasar Pendidikan Tinggi untuk perbaikan budaya belajar; Implementasi SIAT untuk seluruh fakultas untuk mengakomodasi kebutuhan akan sistem informasi universitas yang terpadu dan untuk peningkatan kualitas administrasi pendidikan; pengembangan computer mediated learning untuk peningkatan kemampuan siswa dalam memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran harus terus digalakkan.

UII harus selalu mereformasi budaya di lingkungan UII untuk dapat memenuhi tantangan-tantangan organisasi UII menuju Badan Hukum Pendidikan (BHP). UII seharusnya selalu memberikan reward yang berdasarkan working performance atau tampilan kinerja, memperlihatkan tampilan kinerja yang baik melalui prinsip kerja yang transparant dan accountable, serta dilandasi semangat kerja yang menghargai persaingan secara sehat.

Terkait dengan mahasiswa, kondisi hubungan antara mahasiswa dengan rektor di beberapa periode sebelumnya memang perlu diserasikan. Kadang terlihat jelas adanya kesenjangan antara kebijakan rektorat dengan keinginan mahasiswa. Hal inilah yang secara konsekuensional memberi harapan besar mahasiswa terhadap rektor terpilih. Tuntutan tersebut berkisar antara kebijakan pembinaan, fasilitas fisik, sinergi program, dana pendidikan-kemahasiswaan, hingga kualitas dan kuantitas dosen.

Kondisi di atas merupakan sebagian korektif terhadap kinerja rektorat yang lalu dan merefleksi untuk kinerja rektorat ke depan. Berangkat dari beberapa permasalahan di atas perlu kritisi yang mengatakan bahwa bagi kita prestasi dan keberhasilan rektorat lama tidaklah buruk-buruk amat atau boleh dikatakan tidak Gatot (gagal total), masih banyak prestasi yang bisa dibanggakan, misalnya yang antara lain peran eksternal di dunia pendidikan mendapat pengakuan sebagai Ketua Forum Rektor, Ketua BKS-PTIS, pada usaha kualitas mutu telah memperoleh sertifikasi ISO 9001:2008, masuk dalam daftar urutan PTS Internasional, masuknya pencanangan world class university, dan masih banyak prestasi lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu, dan yang lebih menonjol lagi diantaranya berkaitan dengan kesejahteraan pegawai.

Dari beberapa sudut pandang lain meskipun kita mengakui bahwa ke dalam masih dirasakan adanya kelemahan dan kekurangan, misalnya merebaknya rerasan dari kalangan dosen bahwa kinerja rektorat sekarang masih kurang kompak, masing-masing berjalan sendiri-sendiri, tidak matching, sering meninggalkan tugas. Dalam hal ini kritisi yang patut menjadi perhatian dan bahan koreksi bagi jajaran rektorat kritisi tersebut terutama jatuh pada bidang ganjil, dan beberapa ketimpangan lain didalamnya.
Namun yang sangat patut dipuji adalah banyaknya perhatian terhadap pegawai berkaitan dengan kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup pegawai. Gaji ke 13 secara konsisten dapat dilaksanakan, kenaikkan gaji 15% yang merupakan kebijakan pemerintah dapat diikutinya, juga adanya kenaikkan tunjangan dan kenaikkan-kenaikkan lainnya. Disamping itu tidak menimbulkan kegelisahan dengan menorehkan kebijakan yang tidak populer misalnya pensiun dini, sehingga ini merupakan prestasi tersendiri yang harus dipertahankan siapapun rektornya, nanti.

Kembali pada konsep awal ditinjau dari Statuta 2009, bahwa kita sebenarnya tidak boleh terlalu sombong dengan menafikan pasal dalam statuta yang mengatakan bahwa rektor tidak boleh berasal dari luar UII, yang sebenarnya hal tersebut sudah terakomodasi dalam Statuta 2005. Namun pada Statuta 2009 serta merta telah rahib. Hal ini sangat disayangkan mengingat tantangan UII ke depan dalam memasuki sistem Globalisasi PTN/PTS yang harus berhadapan dengan PT berkualitas internasional tidak terantisipasi. Ke depan bukan tidak mungkin suatu saat UII butuh pemimpin/rektor sekelas PT dunia.
Ada semacam pengamatan yang dilontarkan bahwa perubahan Statuta sebenarnya tidaklah perlu ekstrim, karena amanah yang diberikan oleh Yayasan hanya untuk penyempurnaan, namun yang sudah dilakukan adalah perubahan. Sebenarnya demokratisasi Pilrek masih sangat didambakan oleh sebagian besar komunitas UII, dan pengamatan tersebut rupanya tidak jauh meleset atau mendekati kebenaran bahwa secara sistemik dari penyusunan statuta; sistem pemilihan dan perangkat lainnya dalam pilrek mengandung selera yang mengharapkan angin segar dari sistem Pilrek tersebut, sehingga melihat gelagat ke depan hampir bisa dipastikan dan dikawatirkan bahwa Statuta UII akan selalu berubah sesuai dengan selera, bukan karena tuntutan R & D dan kepentingan pasar agar UII semakin eksis di masyarakat.

Dengan demikian perlu menjadi perhatian khusus bagi rektorat lama dan yang akan datang hal tersebut diakui sebagai bahan evaluasi dan introspeksi diri bahwa hembusan yang terus menerus kritisi terhadap perjalanan program dan kebijakan telah dan dapat menjadi kebenaran kelompok (kebenaran massa). Hal ini akan memicu adanya pengkotak-kotakan yang sampai kapanpun akan selalu terwujud, Sehingga UII selamanya tidak dapat kaffah berdiri tegak dengan ke-Islamannya, karena dikhawatirkan UII sudah kehilangan ruh keikhlasannya.

Bahkan yang sangat ekstrim terdengar, dengan Pilrek pola lama mereka mengklaim bahwa rektor sekarang adalah rektor karyawan. Untuk itu kedepan komunitas lain yang tidak terlibat langsung juga dapat mengklaim apabila pilihan anggota senat UII dan yayasan tidak sesuai dengan harapan. Sebagai harapan dalam Pilrek untuk calon rektor empat tahun ke depan selain persyaratan yang harus dipenuhi dan ditetapkan peraturan yang antara lain, Rektor harus Jujur, Amanah, Adil dan Bijaksana, dst., maka rektor lama masih dapat dipertahankan eksistensinya sepanjang berkaitan dengan kesejahteraan pegawai (Gaji ke-13, kenaikkan Gaji, dll.) dapat dipertahankan bahkan selalu ditingkatkan, dengan catatan tidak meninggalkan beberapa catatan di atas.

Melihat fenomena yang terjadi di negara kita Indonesia, yang sekarang menjadi trend baru yaitu karena banyaknya masalah kasus hukum yang terjadi dan banyak pula tokoh-tokoh nasional kita terbit dari UII khususnya dari Fakultas Hukum UII, terkait dengan hal tersebut, dan juga menurut sejarah UII, rektor pertama kali juga dari Fakultas Hukum, maka akan muncul sinergitas diharapkan Rektor UII ke depan berasal dari Fakultas Hukum. Akan tetapi calonnya harus mempunyai karakter building dan yang lebih penting lagi ”bisa bicara tidak” karena di lingkungan UII juga termasuk negara kasak-kusuk. Disamping itu seorang rektor harus mempunyai kedalaman berwawasan yang proyektif, Rektor harus mempunyai skill manajerial yang baik sekaligus akademisi handal, tidak boleh salah satu akan tetapi harus kedua-duanya. Hal ini juga secara tidak langsung menguntungkan UII dalam menangkap fenomena tersebut.
Akhirnya, dalam kepemimpinan mendatang, rektor sebagai pimpinan struktural diharapkan dapat mengejawantahkan kebijakan yang tidak berarah pada feodalisme. Sebagai pemimpin kultural, peran rektor dapat memberikan uswah khasanah yang hangat dan interaktif, serta dapat mengembalikan martabat hubungan harmonis antara rektorat dengan seluruh komunitas UII. Langkah sederhana, seperti reorientasi kebijakan dengan membuka akses komunukasi sebesar-besarnya terhadap kebijakan yang ada dapat menjadi alternatif awal.

Ke depan kita berharap, UII bukan hanya mampu menjadi world class university yang bercirikan Islam dan berkebangsaan seperti visi yang dicanangkan, tetapi juga harus berhasil menjadi insitusi yang bersahabat dan manusiawi. Namun, tentunya cita tersebut bukan hanya menjadi beban rektorat, melainkan menjadi kewajiban kita semua untuk mewujudkannya bersama-sama.

Sukamto Pegawai FH UII/Ketua IKP UII

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*