Nov 17 2009

Mendorong “Internasionalisasi” PTIS

Published by at 8:37 am under Tajuk

Jika tidak ada kendala serius, kampus UII awal Desember 2009 akan menjadi lokasi penyelenggaraan pertemuan nasional para pimpinan perguruan tinggi Islam yang tergabung dalam Badan Kerjasama PTIS. Bukan hanya karena UII –Rektor UII—menjadi pembina organisasi ini, tetapi pemilihan UII tentu menjadi simbol bahwa PTS tertua ini tetap menjadi salah satu rujukan model terbaik untuk PTIS di Indonesia. Tema yang akan dipilih dalam pertemuan tersebut adalah mendorong roda PTIS agar menjadi bagian dari gerakan perguruan tinggi berkelas dunia (world class university) yang telah dimulai oleh beberapa PTIS di Jawa. Sebuah gagasan aktual, visioner yang layak dipertimbangkan, akan tetapi wajar jika menimbulkan sejumlah tanda tanya besar. Apakah gagasan itu tidak terlalu dini (baca: terlalu mewah) untuk PTIS? Apakah PTIS telah dan akan siap bertransformasi diri?

Stigma bahwa perguruan tinggi yang dikelola oleh ummat Islam di Indonesia sebagai PT kelas dua (second class in quality) dan penuh intrik internal, koruptif telah lama mengakat di benak bukan hanya sebagian pengambil kebijakan, tetapi pemerhati pendidikan. Stigma itu muncul bukan hanya karena performance mayoritas perguruan tinggi Islam yang lamban memacu kualitas akademik, tetapi juga bagian dari skenario eksternal diskriminasi PT Islam itu sendiri (terutama PTIS) oleh negara. Dimasa lalu, menyebut PT Islam akan selalu tertuju kepada IAIN atau sekarang Universitas Islam Negeri (UIN) yang dana operasional dari negara untuk setidaknya 20 IAIN/UIN sama dengan dana operasional untuk satu perguruan tinggi negeri DEPDIKNAS. Akibatnya PT Islam negeri sangat minim fasilitas dan ‘kumuh’. Untuk jadi kelas nasional saja (national class university) sangat berat, apalagi menjadi internasional.

Hal serupa tampak pada mayoritas perguruan tinggi Islam swasta, yang ada di hampir semua propinsi di Indonesia. Carut marut kondisi manajerial dan fisik kampus berpadu dengan rendahnya animo mahasiswa. Kemampuan pengelola untuk menjalin jaringan nasional dan internasional kalah jauh dibandingkan PTIS di Jawa. Ada ketimpangan kondisi budaya akademik yang akut. Belum selesai mengatasi problem internal yang akut ini, perguruan tinggi Islam dihadapklan dengan isu liberalisasi yang sudah didepan mata. Pendidikan tinggi asing menjadi ’monster’ yang siap menerkam eksistensi dan potensi pasar mahasiswa. Pendidikan tinggi asing yang akan masuk ke Indonesia sudah pasti akan pula ’menjual’ nilai-nilai Islam, suatu keunggulan yang selama ini secara konservatif dimiliki PTIS di Indonesia.

Akhir bulan Mei 2009 yang lalu, penulis sempat berkunjung ke Yala Islamic University (YIU) di Pattani, Thailand Selatan. Universitas yang berlokasi di provinsi dengan mayoritas muslim ini tampak megah secara fisik dan dikelola ala manajemen modern oleh berbagai ahli dari dalam dan luar Thailand. YIU adalah contoh jaringan yang kuat antara kelompok-kelompok muslim di Thailand dengan donator dari negara Islam di Timur Tengah. Dana hibah dari negara kaya seperti Qatar dan Kuwait telah mampu dikelola untuk membangun infrastruktur dan fasilitas penunjang sehingga jika dicermati, fisik YIU jauh melebihi PTIS di Jawa yang umurnya lebih tua. Pengalaman yang dimiliki pengelola YIU kiranya pantas diadopsi.

Stigma yang melekat sejak puluhan tahun pada PTIS sebagai institusi nir-manajemen jelas memerlukan jawaban bukan hanya dengan kata-kata tetapi sikap personal (baca : komitmen) dan kebijakan institusi PTIS yang terarah, modern dan berkesinambungan. Jawaban ini harus sekaligus mampu mengantisipasi liberalisasi pendidikan yang akan terjadi. Pilihan untuk mengelola PT Islam secara profesional merupakan sikap dasar yang tepat. Namun rumus konsepsi dan aksi implementasinya kerapkali ibarat jauh api dari panggangnya. Gagasan good university governance atau good corporate gocernance sebagai strategi pencerahan internal masih menjadi ’barang mewah’. Lalu bagaimana menambah gagasan baru berupa internasionalisasi PTIS ditengah situasi muram seperti ini? Forum pertemuan BKS-PTIS di UII akan dan harus menjadi momentum yang telat. UII dengan plus-minusnya berpeluang jadi ’benchmark’, tetapi tak lupa diri untuk terus berbenah. Untuk seluruh wakil pengelola PTIS, selamat bertemu dan bermimpi

(Masduki). Pemred UII News Mas Adink

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*