Nov 17 2009

BEBAN STATUTA

Published by at 8:36 am under Refleksi

Oleh : Dr.H. Supardi.Drs.MM

Refkesi menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah gerakan, pantulan dari luar kemauan (kesadaran) sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar. Juga diartikan cerminan atau gambaran yang muncul karena respon di luar kesadaran (kemauan) diri. Saya mengartikan sebagai pantuluan rasa (hati) saya sebagai tanggapan yang datang dari luar walaupun di luar kemauan saya. Terhadap statuta baru UII (200) refleksi saya dapat dikelompokkan menjadi refleksi positif, refleksi negatif dan refleksi beban yang harus ditanggung sebagai implementasi. Pada tulisan ini saya menulis refleksi saya dalam pengertian beban yang menurut saya beban “berat” yang harus ditanggung oleh organisasi UII dalam implementasi statuta baru.

Beban yang pertama bisa dibaca pada pasal yang “berbau” politik praktis, yaitu pada pasal 33. Calon Rektor UII dipilih oleh senat, calon Rektor diusulkan kepada Pengurus Yayasan sebanyak 3 (baca = tiga) orang berdasarkan urutan perolehan suara terbanyak di Senat Universitas. Pengurus yayasan Badan Wakaf akan menentukan 1 diantara 3 calon yang diajukan. Sampai disini belum ada regulasi yang mengatur tentang dasar atau kriteria untuk menentukan satu calon Rektor dari 3 calon hasil pemilihan oleh Senat Universitas. Pasal ini menjadi berat lagi dilaksanakan manakala Pengurus Yayasan tidak menyenangi atau suka dengan calon Rektor dengan ranking teratas dari pemilihan yang dilakukan Senat Universitas. Semakin tidak jelas dasar dan kriterianya semakin sulit mengambil keputusan, bagi yang rasional, tetapi bagi yang tidak rasional barangkali lebih mudah tinggal ketuk palu yang ditetapkan si “A” walaupun ranking pemilihan Senat Universitas pada urutan 3 tetapi disenangi oleh Pengurus Yayasan. Inilah yang saya katakan berat menjalankannya. Bisa saja lalu ada mekanisme memilihan di Pengurus Yayasan, tetapi jumlah Pengurus Yayasan itu hanya 6 orang. Apa juga tidak berat dan terlebih lagi akan melanggar ayat yang menyatakan Pengurus Yayasan itu menentukan bukan memilih.

Pengurus Yayasan memang ingin mengeksistensikan bahwa Yayasan adalah pemilik dari Universitas, maka pemilik harus ikut menentukan Pimpinan Universitas. Hal demikian tidak salah dan sangat benar. Namun ini kan bentuk Yayasan bukan Perseroan. Di perguruan tinggi juga memiliki ukuran-ukuran akademik dalam menentukan Pemimpinnya. Yayasan rasanya hanya menentukan saja persyaratan yang ketat, ukuran pemilihan demokratis yang akademik (bukan demokratis seperti pemilihan lurah). Setelah itu Yayasan tinggal mengamini pemilihan yang sudah di atur oleh Yayasan sendiri. Kalau harus menentukan lagi apa yang telah dipilih oleh lembaga Senat Universitas yang merupakan kumpulan orang-orang cerdas dan memiliki integritas yang tinggi, apa tidak beban yang lebih berat yang harus ditanggung oleh Pengurus Yayasan.

Katakanlah seperti ilustrasi di atas, ternyata secara ekstrim yang ditentukan oleh Yayasan adalah Calon Rektor yang ranking ke 3, apa yang terjadi. Calon Rektor ranking pertama pasti kecewa, seluruh anggota Senat Universitas juga akan kecewa karena eksistensi sebagai lembaga pemilih tidak dihargai (terutama senat yang memilih). Apa yang dilakukan oleh yang tidak ditentukan. Bisa membuka jalan hukum kalau alasan penolakan tersebut tidak jelas. Misalnya PTUN. Para pendukung bisa saja melakukan demonstrasi dan sebagainya. Bangunan citra UII akan terganggu lagi, yang setiap tahun sudah ada gangguan pencitraan UII.

Solusi. Bagi Yayasan saya kira segera membuat rambu-rambu untuk menentukan 1 calon Rektor dari 3 calon Rektor yang diajukan dari hasil pemilihan oleh Senat Universitas. Jikalau tidak jelas ukurannya sebaiknya segera dilakukan amandemen atas pasal tersebut. Memang Pengurus Yayasan masih memiliki ayat untuk melempar tanggungjawab yaitu pada ayat (4) pasal 33, “dalam hal Pengurus Yayasan tidak dapat menentukan 1 (satu) orang calon Rektor terpilih, maka dapat menyerahkan kepada Pembina Yayasan untuk menentukannya”. Ayat ini memang baik, tetapi memberi beban kepada Pembina Yayasan dan proses menjadi lebih panjang. Saya kawatir di Pembina Yayasan akan mengikuti apa yang dihasilkan oleh Senat Universitas, sehingga ayat bahwa calon Rektor ditentukan 1 dari 3 calon oleh Pengurus Yayasan tidak punya arti apa-apa kecuali memberi beban dirinya dan memperpanjang proses pengadaan Rektor. Sumonggo yang berkompeten mempelajari ulang agar sebelum masuk ranah pemilihan sudah mendapat kejelasan sebagaimana mestinya.

Beban statuta bisa dibaca pada pasal 51 tentang anggota senat Fakultas. Anggota Senat Fakultas adalah: Guru Besar Tetap; Dosen tetap dengan golongan Iva k eatas; Pimpinan Fakultas; Ketua Jurusan/Program Studi; Ketua Departemen; Ketua Program Pascasarjana; Ketua Program Diploma; Ketua Program Profesi; Wakil Dosen Tetap Jurusan/Program Studi, Departemen, Pascasarjana, Diploma, dan Profesi.

Dari keberadaan dan jumlah personil yang ada menjadi anggota Senat Fakultas termasuk pembaharuan yang luar biasa mewadahi aspirasi semua pihak. Pemilihan Pimpinan Fakultas menjadi lebih meriah dan hingar bingar. Namun manakala kita cermati dalam sebuah kerangka adminsitrasi perubahan dan penambahan satu kalimat saja yaitu menyangkut wakil dosen tetap jurusan/PS; Departemen, Pascasarjana, Diploma dan Profesi akan menjadi beban administrasi yang memberatkan.

Di sadari atau tidak selama ini dosen tetap itu tidak secara sakleg dibagi dalam kota-kota yang rigit. Pembagian atau pengelompokan dosen ke jurusan atau program studi lebih banyak hanya sekedar membagi untuk memenuhi persyaratan pembukaan jurusan/program dan akreditasinya. Bukan untuk menjadikan pembagian yang menyangkut urusan politik praktis. Apakah nantinya dalam menetapkan dosen jurusan/program studi, pascasarjana, diploma dan profesi sebagai akal-akalan seperti akreditasi atau rigit.

Rasanya karena menyangkut ranah politik tentunya semua berharap agar pembagian secara rigit. Seseorang harus memilih atau ditetapkan, yang semua menunggu mekanisme dan perlakuan terhadap penetapan tersebut. Katakanlah di Fakultas Ekonomi, yang memiliki 3 jurusan/ps, 3 program S-2/S-3, memiliki 3 program studi di diploma, memiliki program profesi. Apakah semua dosen non struktural tidak akan menjadi anggota senat semua. Jumlah dosen tetap sekarang kurang lebih 120 orang. Jadi anggota senat semua tentu tidak masalah. Yang jadi masalah siapa yang harus ada atau menjadi dosen pascasarjana, siapa saja yang menjadi dosen program Strata-1, siapa yang menjadi dosen program diploma dan yang menjadi dosen tetap program profesi. Status dosen adalah dosen tetap Fakultas Ekonomi UII. Kalau dibagi secara akal-akalan kenapa harus ada pembaharuan yang berlebihan menjadi lembaga yang penuh kebohongan. Kalau bisa serius dan rigit bagaimana mengelolanya. Apakah dosen pascasarjana hanya akan mengajar di pascasarjana saja. Siapa yang menggaji mereka. Dosen yang apa di program profesi apakah hanya mengajar di profesi saja dan seterusnya. Anggaran fakultas untuk membelanjai dosen Starta-1 saja atau juga ke pascasarjana juga, atau ke diploma juga dan sebagainya. Jikalau dosen pascasarjana bisa mengajar Strata-1, mekanisme penentuan dosen melalui apa. Dikawatirkan tidak ada yang mau memilih menjadi dosen pascasarjana, diploma atau profesi. Sebagian besar akan memilih dosen Starta-1.

Dengan demikian, kalau semua memilih menjadi dosen strata-1 lalu wakil-wakil dari pascasarjana, diploma, program profesi di kosongkan? Jikalau ini terjadi kenapa harus melakukan perubahan unsur anggota senat fakultas. Sama aja bohong.

Solusi. Mumpung masih jauh implementasi penyusunan senat fakultas baru. Beban ini harus segera di kaji yang terbaik buat institusi ini. “Tubrukan” kepentingan antar dosen dengan jurusan/ps, pascasarjana, diploma dan program profesi sangat potensial. Hendaknya pengambil keputusan mempersiapkan konsep untuk menjawab masalah-masalah yang akan kita hadapi. Kita berharap baik, tetapi teori konflik sudah diterapkan dalam statuta, maka kita harus menyiapkan manajemen konflik yang jitu. Semoga.

Penulis adalah Dosen Tetap Direktur Pusat Studi Bisnis dan Etos Kerja Fakultas Ekonomi UII

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*