Oct 22 2009

UII dan Advokasi Bencana Alam

Published by at 8:18 am under Tajuk

Untuk kesekian kali, bencana alam hebat melanda Indonesia. Gempa bumi terjadi beruntun, menempati ‘rangking tertinggi’ bentuk musibah dalam sepuluh tahun terakhir dan menelan paling banyak korban jiwa. Berikut rincian beberapa bencana gempa di tanah air: yang terbaru adalah gempa berkekuatan 7,6 SR di wilayah Sumatera Barat, Rabu 30 September pukul 17.16 WIB. Gempa berpusat 57 km Barat Daya Pariaman di kedalaman 71 km. Setelah Gempa bumi dan tsunami hebat terjadi di Aceh tahun 2004, menyusul gempa bumi dahsyat di Yogyakarta tahun 2006 dan gempa Pangandaran berkekuatan 7,7 SR di tahun yang sama. Tahun 2009 ini tercatat setidaknya dua gempa hebat, yaitu gempa Tasikmalaya berkekuatan 7,3 SR dan gempa Padang dan Jambi berkekuatan 7,6 SR. Akankah masih ada gempa susulan di daerah yang sama atau di kawasan lain? Wallaahu’alam. Kita tentu tidak menghendakinya akan tetapi secara religius semuanya tergantung kepada Allah SWT.

Setiap kali bencana alam terjadi, perguruan tinggi dituntut mengambil peran aktif karena empat hal berikut ini. Pertama, perguruan tinggi memiliki SDM intelektual yang memadai dalam mengkaji, mengadvokasi dan mitigasi bencana. Kedua, perguruan tinggi merupakan institusi yang integral dengan masyarakat disekitarnya, bukan institusi yang teralienasi sebagai ‘menara gading’. Ketiga, perguruan tinggi kerapkali juga menjadi korban dari bencana alam itu sendiri. Keempat, perguruan tinggi hidup dan berkembang atas dukungan masyarakat, baik input calon mahasiswa, serapan alumni atau bangunan fisik kampus. Pada konteks empat hal tersebut, perguruan tinggi melakukan tindakan yang tidak sekedar bermakna pengabdian kepada masyarakat (cara pandang konservatif), tetapi kepedulian yang sustainable (cara pandang deliberatif).

Merespon sejumlah kasus bencana alam, semua perguruan tinggi termasuk UII perlu melakukan refleksi kolektif terkait manajemen respon bencana yang cenderung masih reaktif, tidak terkoordinasi dan terfokus dengan baik. Dua bencana alam hebat, yaitu yang terjadi di Yogya tahun 2006 dan di Padang tahun ini menjadi pengkajian yang menarik karena civitas akademika UII turut menjadi korban. UII telah memiliki pusat studi bencana khususnya gempa yang berskala internasional dan memiliki SDM yang ahli di bidang ini. UII juga memiliki sejumlah fakultas yang relevan dalam penanggulangan bencana dan advokasi pasca bencana Bahkan sejak pertengahan tahun ini, UII memiliki sarana pendeteksi gejala gempa. UII memiliki program studi teknik lingkungan. Yang masih diperlukan adalah manajemen koordinasi agar selaras dengan misi. Adalah amat wajar jika pada tahapan tanggap darurat semua pihak seperti ‘emosional’ menyalurkan bantuan logistik ke lokasi bencana. Namun, pada jangka menengah dan panjang, kebutuhan warga korban bencana pasti akan lebih kompleks.

Dalam perumusan formula peran advokatif perguruan tinggi, ada tiga kelompok yang perlu menjadi sasaran. Pertama, kelompok warga secara umum yang bermukim di lokasi bencana. Mereka memerlukan bantuan logistik, pemulihan psikologis dan bantuan ketrampilan memulai kembali survivalitas. Kedua, kelompok mahasiswa korban bencana yang studi di perguruan tinggi dan tidak lagi memiliki sumber keuangan meneruskan pendidikan. Ketiga, kelompok relawan seperti mahasiswa/dosen atau para pihak yang memberikan advokasi korban. Ketiganya harus memperoleh perhatian setara dan segala aktifitas secara sosial ditempatkan setara pula. Dalam praktek, pembekalan calon relawan yang akan diterjunkan ke lokasi bencana kerap diabaikan sehingga kehadiran mereka hanya relevan pada masa tanggap darurat, selanjutnya ber ‘status’ sebagai wisatawan lokasi gempa atau bahkan menjadi beban pihak lain.
Kebijakan menghapus biaya SPP dalam kerangka beasiswa korban bencana tepat untuk mengatasi problem kelompok kedua. Sementara pengiriman bantuan logistik, non-logistik relevan untuk kelompok pertama. Tetapi jangan dilupakan adalah pembekalan relawan yang akan dikirim (civitas akademika) agar mereka bukan justru menjadi pihak yang nantinya harus dievakuasi dari lokasi bencana. Lebih jauh, kontribusi paling signifikan dan komprehensif perguruan tinggi adalah pada perumusan dan kontrol atas proyek-proyek mitigasi dan penanggulangan bencana. Jamak terjadi, bantuan bencana alam bukan hanya salah sasaran, tetapi rawan dikorupsi. Semoga kontribusi UII pada bencana alam gempa mencakup semua hal diatas dan memperkokoh eksistensi perguruan tinggi ini sebagai rahmatan lil’alamiin.

(by Masduki)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*