Oct 17 2009

Sepenggal Hikmah Mudik Ke Kampung

Published by at 8:35 am under Refleksi

Ada seseorang yang sudah hampir 20 tahun tinggal di Jakarta, ia selalu mempunyai kebiasaan yang di mata orang banyak dinilai sangat aneh. Aneh, karena perbuatannya jarang dilakukan orang lain. Ia anak pertama duduk di bangku kuliah, sangat rajin mengumpulkan barang-barang pantas pakai. Entah itu baju, tas, buku-buku sekolah, sepeda dan banyak lagi. Dulu ada orang yang pernah bertanya padanya, untuk apa semua itu engkau kumpulkan? Dengan enteng dia menjawab. "Ini bisa untuk oleh-oleh kalau kita nanti mudik ke kampung. Bukankah barang-barang ini masih bisa dipakai di kampung ?".
Setelah beberapa tahun berlalu, barulah si penanya sadar. Rupanya apa yang dilakukan orang itu banyak positifnya. Positif bagi dirinya maupun bagi orang di kampungnya. Akhirnya, orang yang tadinya bertanya kepada si pengumpul barang, mulai saat itu ikut mencoba meniru kebiasaan baik si pengumpul barang pantas pakai. Walaupun mungkin hanya sekedar membawa oleh-oleh biskuit bikinan lokal untuk keluarga, ataupun selembar baju yang tidak mahal untuk orang tua, selalu ia persiapkan jauh-jauh hari sebelum mudik ke kampung. Memang bukan suatu kewajiban, tapi memberikan sesuatu saat jarang bertemu, seolah punya nilai tersendiri. Seolah menjadi tradisi yang baik bagi siapa saja yang pulang dari perantauan.

Pulang ke kampung halaman dengan tangan kosong, tanpa ada sedikitpun oleh-oleh, rasanya menjadi beban mental tersendiri. Tidak hanya kita saja yang mengalami hal seperti itu. Orang lainpun banyak mengalami hal yang sama.

Ini baru mudik ke kampung dunia, bagaimana seandainya mudik ke kampung "akherat" tanpa ada oleh-oleh yang kita bawa? Bukankah kita juga akan mudik ke kampung akherat yang lebih kekal itu? PR besar bagi kita semua. Hendaknya dipikirkan secara sungguh-sungguh untuk mempersiapkan diri dengan berbagai amal ibadah, agar nantinya dapat selamat.

Hidup di dunia bagaikan di perantauan. Orang Jawa mengatakan “mampir ngombe”, artinya waktu yang tersedia amat sangat sempit dan singkat. Mungkin kita diberi jatah hidup di dunia + 70 tahun, namun tak jarang ada juga yang baru menginjak usia 30 tahun sudah harus kembali menghadap Allah, kejadian 2 September 2009 adalah merupakan contoh yang masih hangat, akibat gempa di wilayah Jawa Barat anak berusia 7 tahun sedang main kelerang menemui ajalnya karena tertimpa tembok yang runtuh. Seberapa pun usia yang sudah kita lalui, seharusnya sisa hidup ini selalu digunakan untuk mempersiapkan bekal guna oleh-oleh menghadap Allah. Bagi perantau seperti yang dijalani sekarang ini nanti pada saatnya pasti orang merantau itu harus pulang. Sebagaimana Allah Firmankan dalam (QS 2: 156), Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali (QS 2:156).
Pembaca yang budiman, pada saatnya nanti kitapun akan pulang ke pangkuan-Nya (artinya pulang kepada Allah SWT) dengan bekal apa? Tentunya yang paling tepat dengan oleh-oleh/bekal taqwa. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa (Q 2:197)

Pembaca yang budiman. Ada sepenggal hikmah bagi yang mau bertafakur sejenak tentang gejala mudik ke kampung. Rupanya tradisi ini tidaklah semata-mata keuntungan dunia saja. Pada hakekatnya, mudik ini sebuah gambaran sangat nyata kepada kita, kelak di kemudian hari kita juga akan melaksanakan mudik yang sebenarnya. Tidak lagi pulang ke kampung halaman atau tempat kelahiran, tapi pulang ke kampung yang lebih kekal, yaitu kampung akhirat. Kampung yang telah dipersiapkan Allah SWT bagi kita.
Pembaca, sudah barang tentu, ketika kita mudik yang sebenarnya itu, akan ditanya oleh-oleh apa yang dibawa. Yang bertanya bukan lagi mahluk seperti kita, namun yang bertanya Sang Khalik sendiri. Yang ditanyakan bukan lagi barang keduniaan berbentuk roti, biskuit, sarung, sajadah, baju baru ataupun barang lainnya, namun oleh-oleh yang ditanya adalah amal kita. Perbuatan kita selama di dunia. Bagaimana umur kita dimanfaatkan di dunia ini? Bagaimana shalat kita, puasa kita, zakat kita, sadakoh kita, perjuangan kita untuk Islam. Apakah semua itu sudah bisa menjadi sebuah oleh-oleh yang kelak kita bawa menghadap Allah SWT? Hanya Sang Maha Hidup dan kita sendiri yang lebih tahu. Wallahu a'lam bisshowab.

(Melan dari Sus Woyo)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*