Feb 19 2008

Empati

Published by at 1:12 pm under Hikmah

Abu 'Amr Jarir bin Abullah Al-Bajali, salah satu sahabat Rasulullah SAW, bercerita pada suatu tengah hari yang terik, tuturnya, dia bersama dengan beberapa orang sahabat yang lain berkumpul bersama Rasulullah.
Belum lama berselang, dari kejauhan tampak beberapa orang yang datang mendekati mereka. Semakin dekat, tampaklah bahwa yang datang itu ternyata orang-orang suku Mudhar. Mereka datang dalam keadaan yang memprihatinkan. Pakaian mereka compang-camping dan sobek di sana-sini. Di pinggang mereka tergantung pedang-pedang yang berkilatan. Melihat keadaan mereka, roman muka Rasulullah SAW berubah muram. Ada perasaan iba yang tampak di wajah beliau yang putih bersih itu. Beliau merasa tidak tega melihat keadaan mereka yang tampak begitu membutuhkan bantuan itu.
Beliau segera beranjak masuk ke dalam rumahnya, lalu keluar lagi dan langsung mencari Bilal bin Rabbah. Setelah didapatinya, beliau menyuruhnya untuk mengumandangkan adzan Dzuhur dan ikamat. Shalat berjamaah pun berlangsung tidak lama kemudian. Selesai shalat, Rasulullah SAW berdiri di hadapan para sahabatnya sambil membacakan wahyu yang baru diterimanya, ''Wahai manusia. Bertakwalah kalian kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa. Dari satu jiwa itu, Allah lalu mencipta pasangannya. Lalu, dari kedua pasangan itu lahirlah laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kalian meminta. Jagalah tali silaturahim di antara kalian. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.'' (QS An-Nisa [4]: 1).
Mendengar ucapan Rasulullah SAW, sontak para sahabat mengumpulkan dinar dan dirham yang mereka miliki, juga aneka macam pakaian, gandum, dan kurma guna diserahkan kepada orang-orang suku Mudhar yang tampak begitu membutuhkan. Melihat semua itu, beliau tersenyum, lalu mengatakan, ''Siapa saja yang membudayakan perilaku baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahala dan pahala orang-orang yang membudayakan perilaku itu sesudahnya tanpa berkurang sedikit pun.'' (HR Muslim).
Cerita di atas memberikan teladan kepada kita untuk bersikap empati terhadap siapa saja yang membutuhkan. Pada hakikatnya manusia itu dari nenek-moyang yang sama, dan karenanya harus saling membantu. Wallahu a'lam.
(Hikmah Republika by Muhammad Nurul Fikri)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*