Jul 30 2007

Rahib yang Berlebihan

Published by at 9:32 am under Hikmah

Di antara gaya hidup yang dilarang oleh Rasulullah SAW adalah gaya hidup rahib yang berlebihan, hanya memedulikan hasrat sendiri, serta tidak memedulikan orang lain dan lingkungan sekitar. Rahib demikian lebih suka menyendiri, hanya beribadah untuk diri sendiri, sementara orang lain yang seharusnya juga ia perhatikan terabaikan.
Salah seorang sahabat yang pernah mempraktikkan gaya hidup rahib berlebihan adalah Abu Darda. Suatu saat, Salman bertandang ke rumah Abu Darda dan mendapati istrinya sedang bermuram durja. Ketika Salman bertanya, istri Abu Darda mengatakan bahwa suaminya selalu berpuasa setiap hari dan kalau malam selalu shalat tanpa pernah tidur sebentar pun.
Mendengar itu, Salman menegur Abu Darda dan berjanji tidak akan makan kecuali bersama dengan Abu Darda. Akhirnya, Abu Darda mau juga berbuka puasa. Ketika malam menjelang lepas Isya, Abu Darda langsung berdiri hendak shalat, tetapi Salman yang hendak tidur berkata, ''Tidur dulu, wahai Abu Darda.''
Abu Darda pun tidur. Beberapa saat kemudian, Abu Darda bangun lagi hendak shalat, namun Salman kembali menegur, ''Tidur dulu, wahai Abu Darda.'' Abu Darda kembali tidur. Di sepertiga malam yang akhir, Abu Darda dan Salman bangun bersamaan, dan Salman berkata, ''Sekarang, mari kita shalat bersama.''
Setelah shalat, Salman kembali berkata, ''Wahai Abu Darda, bagi Tuhan ada hak. Dan, istrimu juga mempunyai hak. Berikanlah hak sesuai dengan ketentuan yang sewajarnya, jangan berlebih-lebihan.'' Kejadian hari itu membuat Abu Darda gundah. Ia merasa Salman telah membatasi dirinya untuk beribadah. Ia merasa gaya hidup rahibnya sudah benar. Untuk mempertegas itu, pagi harinya Abu Darda mengajak Salman ke kediaman Rasulullah SAW.
Setelah cerita panjang, Rasulullah SAW menanggapi, ''Wahai Abu Darda, apa yang dilakukan dan dikatakan Salman terhadapmu betul.'' (HR Bukhari, Tirmidzi, dan Daruquthni).
Apa makna yang bisa dipetik dari dua kisah sahabat di atas? Pertama, Rasulullah SAW tidak melarang untuk bergaya hidup rahib. Yang beliau larang adalah gaya hidup rahib yang berlebih-lebihan. Kedua, Rasulullah SAW mendorong umat Islam untuk tidak hanya mementingkan urusan pribadi dengan Tuhannya, tetapi juga mementingkan urusan publik yang menyangkut hubungan sosial dengan sesama dan lingkungan.
Artinya, umat Islam didorong untuk berperan aktif di ranah sosial dengan tetap tidak melupakan urusan pribadinya dengan Tuhannya. Wallahu a'lam.
(Hikmah Republika by Fajar Kurnianto)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*