Jul 25 2007

Hina

Published by at 9:35 am under Hikmah

Suatu hari Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada Ibrahim bin Adham, ''Bagaimana model kehidupan Anda?'' Ibrahim menjawab, ''Jika kami memperoleh rezeki kami bersyukur, jika tidak maka kami bersabar.'' ''Itu sama halnya dengan kebiasaan anjing-anjing di Khurasan,'' timpal Syaqiq. Ibrahim bertanya, ''Memangnya bagaimana model kehidupan Anda?''
Syaqiq menjawab, ''Jika kami mendapat rezeki, maka kami dermakan, jika tidak maka kami bersyukur.'' ''Anda pasti seorang mahaguru (tasawuf),'' kata Ibrahim bin Adham takzim. Kisah dalam kitab Nafahat al-Uns karya Jami di atas itu, menyiratkan asumsi bahwa solidaritas sosial dan sikap tidak mementingkan diri sendiri hampir susah kita jumpai di dunia manapun dan zaman apa pun. Jangankan mendermakan rezeki ketika menerima (model Syaqiq al-Balkhi itu), bersyukur saja ketika mendapatkan rezeki (model Ibrahim bin Adham) mungkin belum tentu.
Yang ada adalah, jika tidak memperoleh rezeki manusia umumnya berkeluh kesah, dan jika sudah mendapatkannya maka ia ingin tambah terus dan terus. Model seperti ini barangkali bisa kita saksikan manifestasinya pada sikap dan perilaku sebagian kaum elite politik kita belakangan ini, yang ingin selalu bergelimang fasilitas. Gaji naik, tunjangan ini dan itu, biaya sana dan sini, meski itu mungkin belum sebanding dengan maksimalitas kinerja yang ditunjukkan.
Jika orang yang hanya bersyukur jika mendapat rezeki dan bersabar ketika tidak mendapat rezeki oleh Syaqiq Balkhi diibaratkan tak ubahnya anjing, maka bagaimana dengan mereka yang tak pernah bersyukur dan tak pernah merasa puas dengan apa yang sudah diterimanya? Tentu berarti mereka lebih hina lagi.
Alasannya, mereka tidak pernah bersyukur. Sebaliknya, mereka berpikiran bahwa segala yang mereka dapatkan adalah hasil jerih payah mereka. Mendermakan sebagian hartanya dianggap sebagai tindakan merugikan diri sendiri.
Apa yang pernah disabdakan oleh Nabi SAW sangatlah cocok untuk mengilustrasikan 'gaya hidup' mereka ini. Kata Nabi Saw, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah, ''Seorang anak Adam jika memiliki segunung emas, maka ia pasti ingin memiliki dua (gunung emas). Ia tak akan pernah puas, hingga tanah memenuhi lubang hidungnya (mati).'' (HR Bukhari dan Muslim). Nauzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari sifat yang demikian.
(Hikmah Republika by Sabrur R Soenardi)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*