Archive for December, 2006

Dec 26 2006

Penghalang Kelezatan Iman

Published by under Hikmah

Sudahkah kita merasakan manisnya iman dalam kehidupan kita? Benarkah kita ini hidup bahagia dalam Islam?
Ada lima hijab yang menutupi hati kita, sehingga kita tidak bisa merasakan manisnya iman. Pertama, nafsu yang diperturutkan. Selama nafsu kita perturutkan, selama itu pula kita tidak pernah bisa khusyuk dalam shalat. Akibatnya, kita pun tidak bisa merasakan lezatnya iman. Continue Reading »

No responses yet

Dec 22 2006

Memuliakan Ibu

Published by under Hikmah Keluarga

Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar selalu berbuat dan bersikap baik kepada orang tua, ayah dan ibu kita. Syariah yang mulia ini memerintahkan untuk memelihara mereka dan tidak membentaknya di saat mereka sudah renta. Sekadar mengatakan 'ah' pun dilarang. Bahkan, larangan ini disejajarkan oleh Allah setelah larangan syirik kepada-Nya. Continue Reading »

No responses yet

Dec 21 2006

Tabayun

Published by under Hikmah

''Siapa yang mengajarkan surah (Alquran) yang kamu baca ini?'' Umar bertanya kepada Hisyam. ''Rasulullah,'' jawab Hisyam. Umar kaget dengan jawaban Hisyam, karena ia merasa, Rasulullah mengajarkannya bukan dengan bacaan seperti itu. Dengan tegas dan keras Umar berkata, ''Dusta kamu! Apa yang diajarkan Rasulullah SAW kepadaku berbeda dengan cara kamu membaca.'' Continue Reading »

No responses yet

Dec 20 2006

Jangan Lalaikan Niat

Published by under Hikmah

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mendefinisikan makna niat sebagai kehendak atau maksud, atau satu kondisi dan suasana hati yang dikelilingi oleh dua hal yakni ilmu dan amal (perbuatan). Ilmu memiliki posisi terdepan sebelum perbuatan. Dengan adanya ilmu dan pengetahuan seseorang baru bisa berbuat. Jadi, hasil perbuatan tersebut merupakan hasil dari ilmu yang dimiliki seseorang sebelum berbuat.

Maka, ketika ilmu yang mereferensi perbuatan bernilai negatif, negatif pulalah perbuatan yang dihasilkan. Sehingga, dalam perbuatan manusia, niat merupakan hal yang sentral atau penentu arah perbuatan mereka. Jika sudah dilandasi dengan niatan yang baik pasti baik pula perbuatan yang akan dilakukannya, atau sebaliknya. Continue Reading »

No responses yet

Dec 19 2006

Mahabbah

Published by under Hikmah

Cinta dalam bahasa Arab disebut Al-Mahabban, yang berarti kasih sayang. Menurut Abdullah Nashih Ulawan, cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut, dan kasih sayang.

Cinta adalah fitrah manusia yang murni, yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan. ''Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).'' (QS Ali-Imran: 14) Continue Reading »

No responses yet

Dec 18 2006

Sedih pada Tempatnya

Published by under Hikmah

Banyak di antara kita yang lebih bersedih pada urusan-urusan sepele seputar duniawi; bersedih karena sedikitnya harta, bersedih karena belum mendapatkan jodoh, bersedih karena belum memiliki anak, bahkan ada yang bersedih karena tim sepak bolanya kalah. Padahal dunia ini tempat persinggahan sementara.

Setiap orang sudah pasti akan mati, menemui Tuhannya, masuk surga atau neraka. Jangan pernah berpikir bahwa kematian kita akan datang pada usia 70 atau 80 tahun, misalnya. Tetapi berpikirlah bagaimana kita mengisi waktu dengan kebaikan. Continue Reading »

No responses yet

Dec 16 2006

Fasilitas Allah

Published by under Hikmah

''Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.'' (QS Adz-Dzariyaat [51]: 56). Ayat tersebut terkesan seperti pernyataan Allah, bukan perintah kepada manusia. Namun, jika dihayati lebih mendalam, lewat ayat tersebut Allah sesungguhnya menunjukkan kekuasaan-Nya yang absolut kepada manusia. Tak ada tawar-menawar bagi manusia untuk mencapai hakikat hidup selain menyembah kepada Allah.

Banyak orang yang berusaha atau mencoba melawan ketetapan itu. Kita tahu akibat apa yang akan ditanggungnya, baik semasa hidup di dunia maupun terlebih lagi kelak di akhirat. Hanya orang kafir yang congkak yang berani melawan ketentuan Allah, secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Continue Reading »

No responses yet

Dec 15 2006

Menjaga Hati dan Lisan

Published by under Hikmah

Rasulullah SAW pernah menjamin surga bagi siapa saja di antara kaum Muslimin yang sanggup menjaga dua hal, yaitu menjaga apa yang terdapat di antara kedua bibirnya (lisan) dan menjaga apa yang terdapat di antara kedua kakinya (kemaluan). Mengapa penjagaan terhadap lisan menempati posisi yang sangat penting di dalam agama ini?

Fakta memperlihatkan betapa lisan manusia mampu menimbulkan kekacauan sosial serta konflik yang berkepanjangan. Pertikaian seringkali bermula dari lidah yang tidak dijaga dengan baik. Continue Reading »

No responses yet

Dec 14 2006

Kenapa Doa tak Terkabul?

Published by under Hikmah

Suatu ketika negeri Basrah mengalami semacam krisis multidimensi yang berkepanjangan, sehingga membuat keresahan di kalangan masyarakat. Mereka telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki keadaan, termasuk melalui pendekatan spiritual dengan melakukan doa istighotsah. Namun, segala upaya tidak mencapai hasil sesuai yang diharapkan.

Kemudian, mereka menyampaikan keluhannya kepada seorang ulama besar (setara kiai di tempat kita) yang bernama Ibrahim Ibn 'Adham, ''Wahai Pak Kiai, mengapa kondisi kita tak juga berubah. Bukankah Allah telah berjanji akan mengabulkan doa orang yang memohonnya?'' Continue Reading »

No responses yet

Dec 13 2006

Usia Empat Puluh

Published by under Hikmah Keluarga

Akar dan orientasi kultur masyarakat Barat adalah materialisme. Mereka menilai dan membuat indikator hidup dari sisi materialistis. Atas dasar ini tidak mengherankan jika mereka mempunyai ungkapan bahwa 'hidup' dimulai pada umur 40 tahun. Life begin at 40.

Asumsinya adalah pada umur ini, karier telah cukup mapan, pendapatan, serta kekayaan telah mencukupi. Karena itu, sering pula pada usia 40 ini dikaitkan dengan puber kedua, yang membawa pada perselingkuhan. Kemapanan materi membawa godaan, sehingga umur 40 tahun merupakan saat kritis terjadi perceraian dalam rumah tangga. Continue Reading »

No responses yet

Next »