Nov 29 2006

Dimensi Ketakwaan

Published by at 8:17 am under Hikmah

''Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.'' (QS Al-A'raf [7]: 96)
Ibadah kepada Allah jika dilakukan secara benar dan sungguh-sungguh serta ikhlas karena-Nya niscaya akan berbuah ketakwaan. Hal ini tergambar jelas dalam surat Al-Baqarah ayat 21 dan 183, yang keduanya menjelaskan perintah untuk beribadah kepada Allah yang bermuara pada ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT. Ketakwaan yang mampu menghadirkan keberkahan bagi seluruh penduduk suatu negeri.
Ketakwaan yang dihasilkan seorang hamba, buah dari ibadahnya kepada Allah SWT, memiliki dua dimensi. Pertama adalah dimensi moralitas. Artinya, seorang hamba memiliki kedekatan dengan Sang Khalik, merasa diawasi, dilihat, diketahui seluruh gerak-geriknya sehingga ia mampu menjauhkan dirinya dari segala bentuk penyimpangan.
Penggalan sejarah menarik yang merujuk pada dimensi moralitas ini adalah kisah investigasi Khalifah Umar bin Khathab RA yang ingin melihat bagaimana tingkat ketakwaan rakyatnya pada masa itu. Maka, menyamarlah Umar dan berjalan berkeliling di sekitar rakyatnya.
Ketika melihat seorang penggembala kambing, maka mendekatlah Umar seraya berkata, ''Tolong jual seekor kambing itu padaku,'' lalu dengan sigap anak muda itu menjawab, ''Kambing-kambing ini bukan milik saya. Saya hanya diamanati untuk menggembalakan dan saya mendapat upah dari pekerjaan ini.'' Kemudian Umar berkata, ''Katakan saja kepada si empunya bahwa kambingnya telah dimakan serigala.'' Namun, dengan tegasnya sang penggembala kambing itu menjawab lagi, ''Ya, Tuan ... boleh jadi si empunya tidak mengetahui apa yang saya lakukan, tetapi di manakah Allah?''
Sepenggal kisah di atas menggambarkan bahwa rakyat Umar yang berstatus sosial penggembala kambing itu mencapai tingkat ketakwaan yang sangat tinggi. Dia mampu menghindari penyimpangan karena dia meyakini meskipun manusia tidak mengetahui dan administrasi dapat direkayasa, namun administrasi langit tidak akan pernah keliru. Benar adalah benar, salah adalah salah.
Dimensi yang kedua dari ketakwaan adalah dimensi profesionalitas. Dengan dimensi ini ia bersama hamba-hamba Allah yang lain mampu mengelola alam semesta ini dalam rangka beribadah kepada Allah dan hasilnya sepenuhnya dipersembahkan juga untuk beribadah kepada Allah SWT.
Negeri-negeri yang dikelola oleh orang-orang yang memiliki dua dimensi takwa tersebut akan menjadi negeri yang dicintai Allah. Negeri di mana Allah menurunkan keberkahan dari langit dan bumi, berupa rasa aman dan nyaman serta terbebasnya dari belenggu ketakutan. Juga keberkahan dalam bentuk kemakmuran dan kesejahteraan.
(Ahmad Heryawan Lc )

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*