Nov 28 2006

Bacalah!

Published by at 8:19 am under Hikmah

''Pertama adalah kata
selanjutnya adalah kita''
Tulisan kaligrafi di atas memberi inspirasi bagi kita untuk mengakrabi dunia kata-kata. Tiap orang yang membacanya akan terkagum-kagum pada kedalaman filosofinya, sekaligus menunjukkan siapa pemilik karya tersebut. Adalah HB Jassin yang mengoleksinya di atas dinding di Pusat Dokumentasi HB Jassin, Taman Ismail Marzuki.
Kekaguman akan kaligrafi tersebut membuat kita terus merenung apa makna sebenarnya dari balik tulisan sastra itu. Tafsir atas teks di atas mengarah kepada dorongan untuk membaca. Tafsirannya kira-kira begini: Manusia berawal dari huruf, huruf merakit kata kemudian tersusunlah sebuah kalimat yang dapat dibaca yaitu MANUSIA. Kenapa? Manusia dapat dikatakan manusia ketika manusia dapat diucapkan dan dibaca melalui kata-kata.
Dari sinilah kita akan memahami kenapa Kanjeng Nabi membawa pesan atau wahyu yang pertama kali kepada bangsa Arab pada masa itu berupa iqra, membaca. Bukan bekerja atau berdoa. Begitu juga kenapa pula pusaka negeri Amarta berupa kitab bukan keris, tombak, atau bom, atau pedang bikinan para dewa. Hal ini setidaknya menjadi pertanda bahwa membaca adalah pekerjaan mulia dan utama.
Lantas, kenapa kita meninggalkan wahyu pertama, surah Al-'Alaq dari Alquran itu? Bila kita tengok sejarah peradaban, Islam berjaya dengan gemilang hingga mencapai puluhan abad lamanya tidak lain dimulai dari kerja keras Nabi menghidupkan tradisi membaca di kalangan sahabatnya. Mengutip Nashr Hamid Abu Zaid, peradaban Islam adalah peradaban teks. Oleh karena itu, hari ini Islam mengalami kemunduran tiada lain disebabkan umatnya tidak lagi menjadikan membaca sebagai aktivitas rutin dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal dengan membaca, manusia dapat naik derajatnya menjadi makhluk yang lebih utama dibanding makhluk lainnya. Membaca itu boleh apa saja, apakah berupa ayat qauliyah (teks) atau juga ayat kauniyah (alam semesta). Membaca Alquran itu wajib, membaca koran juga penting.
Dengan membaca teks dari ayat-ayat suci, manusia berarti membaca manual book kehidupannya sendiri. Dengan membaca koran manusia akan memperoleh informasi yang banyak sehingga memiliki wawasan yang luas sedangkan membaca alam semesta manusia akan memahami tugasnya sebagai khalifah yang harus memakmurkan bumi bukan menghancurkannya.
Bangsa Jepang akhirnya maju menjadi kekuatan di Asia yang memiliki teknologi dan ilmu pengetahuan, salah satu penyebabnya kegiatan membaca sudah menjadi budaya masyarakat setempat. Baik di atas bus kota, kereta, ataukah sedang duduk di tempat-tempat umum, masyarakat Jepang tidak pernah lepas dari buku. Nah, mereka mampu membuktikan revolusi dengan membaca. Mereka bisa, kenapa kita tidak ingin seperti mereka? Tanya kenapa!
(Masagus Fauzan Yayan )

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*