Nov 24 2006

Berhala Diri

Published by at 8:21 am under Hikmah

Menurut Nabi Muhammad SAW, jihad terbesar (jihad akbar) adalah jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu). Hawa nafsu adalah dorongan untuk mendahulukan keinginan, kepentingan, dan kehendak diri. Hawa adalah egoisme, pengabdian terhadap keakuan. Hawa berasal dari sifat setan dalam diri kita. Dari hawalah lahir penentangan kepada Tuhan (kufur) dan penciptaan aturan hidup yang bertentangan dengan aturan Tuhan.
Cinta diri adalah sebab seluruh pertentangan kepada Allah dan pengumbaran dalam dosa, kejahatan, dan pengkhianatan. Segala macam cinta dunia dan kemilaunya, termasuk kecintaan pada status sosial, reputasi, kekayaan, kekuasaan, dan sebagainya, yang merupakan sumber segala kerusakan, dan kehancuran, tumbuh dari cinta diri. Malapetaka, peperangan, dan kekerasan, misalnya, berasal dari egoisme.
Egoisme merupakan patung terbesar dan paling sulit dibinasakan. Oleh karena itu, jika belum mampu menghancurkannya secara total, maka kita mulailah menghancurkannya secara perlahan-lahan mulai dari tangannya, kakinya, dan seterusnya.
Ada dua cara praktis menghancurkan egoisme. Pertama, memperbanyak takbir. Shalat adalah wahana peluluhlantakan egoisme. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya lafal takbir yang disunahkan dibaca ketika pergantian rukun. Ketika takbir, seorang Muslim mengukuhkan ketauhidannya kembali, memperbarui terus-menerus keyakinannya bahwa hanya Allahlah zat yang Mahabesar. Pada saat yang sama kita menghinakan diri kita, merendahkan diri kita. Inilah hakikat shalat, yakni dzillat al-ubudiyyah (kehinaan hamba) dan izzat al-rububiyyah (kemuliaan ketuhanan).
Kedua, mendoakan siapa pun, baik orang yang disayangi maupun orang yang dibenci, dalam setiap lantunan doa. Hal ini dicontohkan oleh Sayyidah Fatimah, putri tercinta Nabi SAW. Cucu Nabi SAW, Hasan, menceritakannya: ''Pada suatu malam Jumat, aku menyaksikan ibuku (Fatimah) tenggelam dalam ibadah hingga pagi. Dia tiada berhenti rukuk dan sujud serta menyebut satu per satu nama tetangga. Satu per satu tetangga itu didoakan, namun herannya aku tak mendengar beliau berdoa untuk dirinya sendiri. Dengan takjub, aku bertanya kepadanya, 'Wahai Bunda, mengapa Bunda hanya mendoakan orang lain, dan mengabaikan diri sendiri?' Ibuku menjawab, 'Anakku, tetangga dahulu, baru diri kita'.'' Wallahu a'lam bish-shawab.
(Hikmah Republika by M Subhi-Ibrahim )

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*