Oct 27 2006

Ringan Dunia Akhirat

Published by at 8:47 am under Hikmah

Apa yang akan kita andalkan ketika tiba harinya tak ada penolong dapat diharap? Ketika harta dan anak-anak tak memberi manfaat? Hari Pengadilan, Hari Pembalasan, harinya kita harus memikul sendiri segala beban akibat salah dan dosa?
Pasti pertanyaan itu yang menyebabkan Imam Ali Zainal Abidin, ''Sang Penghulu Kaum Muda'', amat gemar menolong dan memberi. Tak hanya gemar, beliau ''keranjingan''. Sehari saja tak ada orang datang minta tolong, beliau jadi berduka. Dan, setiap muncul orang yang butuh pertolongan, senyumnya mengembang, kedua tangannya pun terbentang lebar, ''Selamat datang, wahai Saudaraku, yang siap membantuku membawakan beban di akhirat kelak,'' sambutnya.
Nobles oblige, kata peribahasa. Setiap nikmat, setiap karunia, membawa tanggung jawab. ''Tsumma latus-alunna yaumaidzin 'anin na'iim, kemudian sungguh kalian akan dimintai pertanggungjawaban pada hari itu akan nikmat-nikmat (yang telah kalian terima).''
Beban yang akan kita pikul di akhirat nanti berasal dari karunia yang kita nikmati di dunia ini. Agaknya, demikianlah cara berpikir Imam Ali Zainal Abidin, sehingga setiap kali memperoleh rezeki, dia akan berusaha keras menyedekahkannya. Dia sungguh-sungguh berupaya, agar sebelum malam menjelang, sebisa mungkin rezeki itu habis terbagi. Agar malam harinya menjadi miliknya sendiri untuk berasyik-masyuk bersama Tuhannya, tanpa terganggu kekhawatiran akan beban yang harus ditanggungnya di akhirat nanti. Imam Fahrurrozi dalam kitab tafsirnya menghikayatkan, betapa para malaikat tak mampu melihat riwayat amalan anak manusia di Lauh Mahfudh. Dengan kasih sayang Allah, amalan-amalan jelek manusia tertutup dari penglihatan mereka, sehingga yang terbaca hanyalah yang indah-indah saja. Para malaikat pun turun ke langit dunia untuk menyaksikan langsung apa yang diperbuat anak Adam.
Pada saat itulah mereka melihat bahwa ibadah yang biasa mereka kerjakan, ternyata dikerjakan pula oleh manusia. Mereka shalat, penduduk bumi juga shalat. Mereka bertasbih, manusia bertasbih. Malaikat berthawaf, anak Adam pun ramai membiasakannya. Bahkan, ada dua macam amalan penduduk bumi yang malaikat tak akan pernah mengerjakannya.
Dua amalan yang bisa mengangkat derajat manusia melebihi kemuliaan mereka. Apakah dua amalan itu? Tobat dan derma. Malaikat tak bertobat karena tak pernah berdosa. Malaikat tak dapat berderma karena tak pernah mendapat rezeki selain ibadah mereka.
Hamba yang bertobat laksana bayi saat dilahirkan ibunya. Itu saja sudah cukup membuatnya mulia. Sebab manusia, dalam fitrahnya, memang mulia, lebih mulia daripada malaikat, kecuali manusia itu menghinakan dirinya sendiri dengan dosa. Imam Ali Zainal Abidin telah memberikan teladannya. Sebuah kiat, yang membuat kita ringan di dunia dan ringan di akhirat.
(Hikmah Republika by H Saifullah Yusuf )

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*