Jun 10 2006

Menghormati Tamu

Published by at 4:12 pm under Hikmah

Menghormati tamu (al-dlaif) adalah kewajiban bagi seorang Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Karena hal ini telah disinyalir oleh baginda Rasulullah SAW, ''Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormatilah tamu-tamu kamu sekalian.'' (HR Muslim).
Orang yang bertamu adalah raja bagi penghuni rumah. Pelayanan dan keramahan seharusnya dilakukan oleh pihak penghuni rumah sebagaimana seorang pelayan toko melayani pembelinya. Karena baik dan jeleknya sebuah keluarga akan tampak dalam tata cara melayani tamunya.
Pelayanan terhadap tamu bukan hanya menyediakan makanan dan fasilitas yang memuaskan, tetapi perangai yang baik juga termasuk dalam menghormati tamu. Seperti, wajah selalu dihiasi dengan senyuman, menyembunyikan aib keluarga, tidak bertengkar ketika tamu masih berada di rumah, dan respek terhadap kehadirannya. Suatu ketika seorang sahabat Rasulullah SAW kedatangan seorang tamu, dia ingin melayani tamunya, tetapi tidak ada sesuatu yang istimewa di rumahnya, termasuk jatah makanan hanya ada untuk satu orang saja. Setiap kali makan bersama tamu tersebut, lampu yang ada di rumahnya dimatikan.
Hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring. Ketika tamu tersebut ingin selesai dari makan, lampunya dinyalakan kembali. Karena selama makan bersama tamu tersebut, dia dan istrinya tidak makan, hanya menyertainya bersama suara sendok dan piring yang kosong.
Dari kisah di atas dapat kita ambil pelajaran. Pertama, menghormati tamu dengan perangai yang baik walaupun fasilitas kurang memuaskan. Ini seperti terjadi ketika Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah yang diterima oleh Abu Ayyub al-Anshari. Setiap hari melayani Rasulullah SAW dengan pelayanan dan keramahan yang baik. Seperti, ketika Rasulullah SAW hendak mandi, air sudah tersedia. Setiap bertatap muka selalu dihiasi dengan senyum di wajahnya, dia tidak tidur selama Rasulullah SAW belum tidur karena hanya ada satu tempat tidur, dan sebagainya.
Kedua, tidak boleh bertamu lebih dari tiga hari. Karena di samping merepotkan penghuni rumah, juga batas yang ditentukan Rasulullah SAW untuk menghormati orang yang bertamu itu tidak lebih dari tiga hari. Maka, seharusnya bagi orang yang bertamu dapat memahami hal tersebut.
''Tidak halal bagi seorang Muslim bertamu lebih dari tiga hari.'' (HR Bukhari dan Muslim). Bangunan keluarga yang kokoh adalah yang dapat memberikan perangai yang baik kepada tamunya. Keharmonisan suami istri akan tampak ketika harus melayani tamunya karena kehadiran tamu tidak selamanya direstui oleh semua penghuni rumah. Oleh karenanya, kerukunan dan keharmonisan sebuah keluarga akan terlihat ketika semua penghuni rumah dapat melayani tamunya dengan baik.
(Hikmah Republika by Irfan Hakiem )

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*