Nov 08 2005

Syawal

Published by at 3:20 pm under Hikmah Rasya

Bulan suci Ramadhan 1426 Hijriyah yang di dalamnya penuh dengan rahmat, berkah, ampunan, serta pembebasan dari api neraka bagi umat Islam, kini telah berlalu. Seperti sabda Rasulullah SAW, ''Langit pun menangis dengan perginya Ramadhan,'' tak sedikit umat Islam yang baru saja menunaikan ibadah puasa selama bulan suci, benar-benar merasa sedih dengan berakhirnya Ramadhan.
Kini, kita berada di bulan Syawal. Secara bahasa, kata Syawal akar kata dari syala yasyulu syawwal artinya meningkat (irtafa'). Yang meningkat adalah ibadah dan muamalah yang kita lakukan. Misalnya, pertama, selama Ramadhan kita selalu mengikuti shalat Subuh berjamaah di masjid. Bahkan, tak jarang yang mengikuti kuliah Subuh yang digelar di masjid-masjid tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah mampukah kita setelah Ramadhan melaksanakan shalat Subuh berjamaah?
Kedua, selama Ramadhan kita rutin melakukan tadarus Alquran, bahkan tak jarang ada yang seperti mengejar target dalam membacanya sampai hatam berkali-kali. Yang menjadi pertanyaan adalah masihkah kita membaca dan mengkaji Alquran di bulan Syawal?
Ketiga, selama Ramadhan kita begitu peduli kepada fakir, miskin, dan kaum dhuafa. Dengan murah hati kita membagi-bagikan paket sembako, mengadakan acara buka puasa bersama dengan kaum dhuafa, bahkan ada yang sampai membagikan paket Lebaran. Yang menjadi pertanyaan adalah masihkah kita menjadi dermawan di tengah situasi perekonomian yang carut-marut akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM)?
Keempat, selama Ramadhan kita sering beriktikaf di masjid-masjid untuk merenungi dosa dan segala perbuatan buruk kita kepada Allah dengan harapan mendapat maghfirah-Nya. Yang menjadi pertanyaan adalah mampukah kita meningkatkan ibadah iktikaf di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya? Kelima, selama Ramadhan, mungkin kita termasuk orang yang tak pernah absen melaksanakan qiyamulail dan shalat dhuha. Yang menjadi pertanyaan adalah masihkah kita melaksanakan ibadah sunah yang sangat tinggi derajatnya di hadapan Allah di luar Ramadhan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendaklah menjadi renungan bagi kita bahwa dengan datangnya Syawal, maka sesuai dengan artinya yaitu meningkat, kita tingkatkan pula ibadah kepada Allah yang akan berdampak pada kesalehan pribadi dan ibadah kepada sesama manusia yang membawa kita kepada kesalehan sosial. Jangan mengartikan kembali ke fitrah berarti kita kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari perut ibunya kemudian dengan seenaknya melakukan perbuatan yang dilarang Allah.
Ibadah Ramadhan yang membekas berbuah takwa sebagaimana difirmankan Allah dalam QS 2 ayat 183. Karena itu, di dalam Ramadhan kita disuruh oleh Allah SWT untuk mencari bekal sebanyak-banyak guna menghadapi sebelas bulan berikutnya. Jangan jadikan puasa Ramadhan yang telah kita lakukan hanya mendapatkan haus dan lapar. Ramadhan merupakan pemantik semangat untuk meningkatkan ibadah pribadi dan ibadah sosial di luar Ramadhan. Wallahu a'lam bish shawab.
(Hikmah Republika by Suprianto)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*