Nov 07 2005

Nasib Anak Yatim

Published by at 3:19 pm under Hikmah

Memori publik terhadap suasana Lebaran menyimpan seribu satu makna. Terlebih, di saat ini kemeriahan Lebaran hampir bisa terlihat di segala pojok kehidupan: Tayangan televisi paket khusus Lebaran, diskon khusus Lebaran di mal, janji iklan yang menggoda, hingga antrean belanja.
Namun, kesan mendalam, terutama bagi kaum Muslim, adalah perayaan Hari Kemenangan. Terutama bagi Mukmin yang sukses melakoni satu bulan penuh puasa di bulan Ramadhan. Bersyukurlah orang-orang yang bisa lolos dari ujian itu. Semoga kualitas iman dan amal mereka kian naik derajatnya.
Salah satu dimensi keimanan yang hendaknya menaik pasca-Ramadhan adalah menguatnya perasaan dan kasih sayang kita terhadap orang-orang lemah, miskin, dan tak berdaya (kaum dhuafa). Jika punya sense of solidarity yang kuat, kita pasti trenyuh ketika di Hari Kemenangan atau di malam takbir menggema, menyaksikan pemandangan miris. Pantaulah sekeliling: Di pinggir jalan gelandangan bertebaran, pengemis yang terlunta, atau pengamen yang kedinginan!
Bagaimana jika hal itu terjadi pada diri kita, atau sanak kerabat dekat? Tentu menyesakkan. Nah, di sinilah faktor ''kecerdasan emosional'' kita menentukan: Apakah akan membantu kaum papa, atau justru cuek? Nabi, sebagai sumber teladan agung bagi kita, memberi contoh teramat mulia. Kitab Durratun Nasyihin karangan Usman Ibnu Hasan Ibnu Ahmad Assyakur, mengisahkan, pada saat Lebaran, seorang anak kecil dengan pakaian lusuh menangis bersimbah air mata. Ia tampak amat menderita.
Rasulullah kemudian menghampiri seraya bertanya, ''Mengapa kamu bersedih di saat hari raya seperti ini?'' Sang anak membeberkan, ia bersedih lantaran tak bisa berlebaran seperti anak yang lain. Ia tak punya bapak, karena syahid ketika ikut bertempur bersama pasukan Rasulullah. Ibunya pergi membawa harta peninggalan bapaknya bersama suaminya yang baru. Si anak betul-betul sebatang kara.
Tergetar oleh cerita pilu itu, Rasul mengangkat anak kecil itu menjadi bagian dari keluarganya, bergabung bersama Ali, Siti Fatimah, Siti Aisyah, serta Hasan dan Husein. Sontak si anak sumringah, ceria bersama anak-anak lain. Ketika Rasulullah wafat, kesedihan mendalam mendera sang yatim. Beruntung kemudian Abu Bakar bersedia mengangkatnya menjadi anak.
Hikmah berharga: Ada golongan tertentu yang butuh langsung uluran tangan kita. Mereka mendamba pertolongan konkret, agar menopang mereka dalam melakukan perubahan nasib. Anak yatim adalah sebuah posisi rentan yang butuh dampingan dan sokongan langsung. Di tahap awal, mereka butuh uluran konkret, misalnya menyekolahkan, memberi beasiswa, atau didikan pesantren. Kelak, setelah tumbuh dan mampu mandiri, kita bisa melepas mereka ke masyarakat. Semoga kita menjadi insan-insan yang kian peka, empati, dan solider dengan penderitaan sesama. Minal aidin wal faidzin. Mohon Maaf lahir batin.
(Hikmah Republika by KH Syukron Makmun)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*