Nov 01 2005

Merefleksikan Puasa

Published by at 3:18 pm under Hikmah Rasya

Reuni dan romantisme keluarga harusnya terbangun dengan indah di bulan puasa. Selain jadwal makan bersama keluarga menjadi agenda harian, kesempatan menjelang dan sesudah buka atau sahur pun menjadi media yang efektif untuk membangun kedekatan dan forum berbagi di antara anggota keluarga.
Anak-anak dan orang tua yang biasanya asyik dengan kesibukan sendiri-sendiri, saat Ramadhan menjadi bersatu, bercengkerama, dan saling berdiskusi. Pada Ramadhan ini, setiap anggota keluarga berusaha untuk selalu berkumpul dengan keluarga, bahkan yang sangat sibuk sekali pun. Apalagi media puasa dijadikannya untuk saling mengevaluasi diri (muhasabah). Kebersamaan anak dengan orang tua di bulan puasa bisa dijadikan media pendidikan pada anak untuk belajar tentang kejujuran, kerja keras, disiplin, kesabaran, dan rasa syukur.
Pertama, mendidik kejujuran. Berpuasa memiliki target akhir pada ketakwaan (QS Al Baqarah:183). Sedangkan salah satu refleksi ketakwaan dalam kehidupan adalah sikap jujur. Puasa memiliki korelasi yang kuat dengan sikap positif ini. Seorang anak bisa saja mengaku berpuasa, padahal tanpa sepengetahuan orang tuanya ia telah berbuka. Apalagi ibadah puasa ini hubungannya langsung dengan Allah Yang Maha Mengetahui.
Kedua, puasa mendidik kerja keras. Allah SWT berfirman, ''Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu ....'' (QS At Taubah:105). Saat berpuasa, kita senantiasa dituntut untuk tetap bekerja, dan bagi anak-anak, puasa akan sangat disesuaikan dengan kemampuannya.
Bekerja keras, bagi orang beriman, bukanlah suatu tuntutan karena adanya pengawasan dari atasan. Orang beriman akan senantiasa merasa diawasi langsung oleh Allah SWT (muraqabatullah). Puasa akan mendidik orang tetap bekerja meski tidak diawasi manusia. Perwujudan kerja keras ini dapat juga dilihat dari semangat untuk menjalankan ibadah yang dianjurkan pada bulan Ramadhan. Seseorang yang jarang shalat sekalipun, akan berusaha untuk menunaikan shalat secara lengkap dan tepat waktu, bahkan shalat Tarawih, saat Ramadhan.
Ketiga, puasa mendidik untuk disiplin. Bayangkan, hanya lebih cepat sedetik saja, orang yang berpuasa tidak mau untuk berbuka puasa, dan ini berlaku untuk semua orang termasuk anak-anak kita. Belajar berdisiplin bukan berarti menyiksa diri sendiri, namun belajar tentang kesabaran dan kebahagiaan. Keempat, puasa mengajarkan kesabaran. Pada hari lain di luar puasa, sepertinya kemarahan begitu mudah terjadi, namun pada waktu berpuasa kita diingatkan untuk bersabar agar pahala puasa kita tidak batal. Kelima, puasa mengajarkan rasa syukur. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga. Di sinilah rasa kepekaan sosial kita dilatih, apakah dengan puasa kita menjadi seorang dermawan.
Pertanyaan yang paling penting adalah sudahkah media puasa ini kita manfaatkan bersama? Dan mungkinkah media kebersamaan ini kita hapus kembali setelah puasa? Tentunya kita berharap kebersamaan itu tetap ada untuk selama-lamanya, sehingga kita dan anak-anak menjadi lebih berkualitas dan bangsa ini menjadi lebih baik.
(Hikmah Republika by Dr H Arief Rachman)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*