Oct 27 2005

Membumikan Alquran

Published by at 3:14 pm under Hikmah

Bulan suci Ramadhan sering pula disebut sebagai Syahr Alquran (Bulan Alquran). Hal ini karena Alquran untuk pertama kalinya diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia, pada bulan Ramadhan. ''Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia.'' (QS Al-Baqarah: 185).
Sebagai petunjuk hidup, Alquran tak dapat disangkal merupakan nikmat dari Allah SWT yang amat besar. Bahkan ibadah puasa, seperti dikatakan ulama Al Azhar, Abdul Halim Mahmud, diwajibkan sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat turunnya Alquran itu. Nikmat itu memang ada dua macam, yaitu nikmat fisik dan nikmat rohani (spiritual). Alquran sebagai wahyu dari Allah SWT tergolong nikmat rohani. Inilah sesungguhnya makna firman Allah SWT, ''Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menebarkan (membumikan)-nya.'' (QS Al-Dhuha: 11).
Dilihat dari fungsinya sebagai petunjuk hidup bagi manusia, maka Alquran bersifat sangat antropologis, artinya diorientasikan untuk kebaikan manusia. Perhatikan misalnya Alquran sendiri menyebut dirinya sebagai petunjuk bagi manusia (QS Al-Baqarah: 185), petunjuk bagi orang takwa (QS Al-Baqarah: 2), petunjuk dan rahmat (QS An-Nahl: 64), dan obat penawar bagi penyakit-penyakit (QS Yunus: 57).
Ini berarti Alquran harus dekat dan tidak boleh dipisahkan dari kehidupan kaum Muslim. Kata Sayyid Quthub, ''Kita harus hidup bersama Alquran dan membangun kehidupan ini sesuai dengan naungan dan bimbingan Alquran.'' Bagi Sayyid Quthub, inilah jalan satu-satunya yang akan mengantar kaum Muslim mencapai derajat 'umat terbaik' (khair ummah) seperti generasi pertama Islam yang disebut sebagai 'generasi Alquran satu-satunya' jilun Qur'aniyun farid).
Untuk maksud ini, setiap Muslim, setingkat dengan kesanggupan yang dimiliki, harus berusaha mewujudkan dan membumikan Alquran itu dalam kehidupan, setidak-tidaknya melalui empat langkah berikut. Pertama, al tilawah, yaitu membaca Alquran. Sabda Rasulullah SAW, ''Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Alquran.'' Kedua, al tafahum yaitu memahami makna dan kandungan Alquran. Ketiga, al tadabbur yaitu mendalami kandungan Alquran sehingga mendapat konsep-konsep berguna bagi kehidupan (QS Shad: 29). Keempat, al takhalluq bi Alquran, atau menjadikan Alquran sebagai akhlak, sehingga benar-benar mewujud dalam realitas kehidupan.
Dalam tahap-tahap tersebut tergambar bahwa studi Alquran haruslah berujung pada penubuhan Alquran (tajsim Alquran). Dalam bahasa Sayyid Quthub, studi Alquran harus dilakukan dengan semangat untuk membumikannya, bukan sekadar untuk teoretisasi atau pengembangan wacana belaka. Hanya dengan semangat demikian, tegas Quthub, Alquran dapat memberikan berkah dan mengeluarkan simpanan dan kekayaannya yang amat luas berupa ilmu dan hikmah. Lain tidak! Wallahu a'lam.
(Hikmah Republika by Dr A Ilyas Ismail MA)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*