Oct 26 2005

Shaum yang Diterima

Published by at 3:13 pm under Hikmah Rasya

Shaum atau puasa adalah ibadah wajib bagi setiap Muslim baik pria maupun wanita yang sudah mukallaf (dewasa). Kewajiban shaum sama derajatnya dengan kewajiban shalat, zakat, dan haji, karena sama-sama termasuk rukun Islam yang lima. Hanya, kalau shalat kewajibannya bersifat harian, yakni lima waktu dalam sehari semalam, sedangkan shaum kewajibannya setahun sekali, yakni pada bulan Ramadhan.
Sebagai ibadah mahdhah, shaum memiliki beberapa persyaratan. Di antaranya, shaum itu harus dilakukan oleh orang yang beragama Islam. Pelakunya sudah cukup umur dan dijalankan dalam bulan Ramadhan. Orang yang shaum (shaaim) juga harus menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Shaum juga harus dijalankan oleh orang yang tidak dalam keadaan terlarang untuk shaum --misalnya, wanita yang datang bulan. Apabila persyaratan ini terpenuhi, shaum-nya sudah sah sebagai ibadah dan dosa meninggalkan rukun Islam menjadi gugur.
Supaya shaum-nya diterima, shaaim perlu melengkapi shaum-nya dengan mengikutsertakan pikiran, hati, dan semua anggota badannya seperti lidah, mata, telinga, tangan, dan kaki. Semuanya ikut berpuasa dari perbuatan yang dilarang oleh agama Islam. Kalau tidak, dia tidak akan mendapatkan hasil apa-apa dari shaum-nya kecuali rasa haus dan lapar saja.
Shaaim tidak boleh berpikir jahat kepada orang lain, dan tidak merencanakan sebuah kejahatan buat siapa pun. Hatinya dijaga dari sifat dengki, hasad, benci tanpa alasan syar'i, serta dendam. Matanya dipejamkan dari melihat yang dilarang oleh agama seperti film porno, tarian yang sensual, goyang pinggul yang merangsang, dan sebagainya. Telinganya tidak mendengarkan musik dan lagu-lagu yang melalaikan. Lidahnya tidak ngomong jorok, tidak menceritakan kejelekan orang lain (ghibah), tidak mengadu domba (namimah), dan sebagainya.
Tangannya tidak mencuri, tidak korupsi, menganiaya orang lain, dan kakinya tidak berjalan menuju tempat maksiat. Badannya tidak memakan barang yang haram, tidak meminum minuman keras, tidak mengonsumsi narkoba. Pakaian yang dikenakan juga dibeli dengan uang yang diperoleh cengan cara halal. Untuk lebih menyempurnakan ibadah shaum, maka shaaim harus selalu shalat lima waktu di awal waktu, dan bagi kaum pria shalatnya senantiasa berjamaah di masjid. Di malam hari, para shaaim juga dianjurkan untuk mendirikan shalat malam, baik secara berjamaah maupun sendirian. Semaksimal mungkin, shaaim juga memanfaatkan waktunya untuk membaca Alquran, dan bersedekah kepada fakir miskin.
Akhirnya, sampailah kita untuk mengatakan bahwa kunci atau roh ibadah shaum adalah ikhlas. Walaupun semua kelengkapan tersebut dilaksanakan, kalau shaaim tidak ikhlas, maka shaum-nya akan menjadi sia-sia. Shaum yang ikhlas maksudnya adalah shaum yang semata-mata dijalankan karena Allah SWT saja, tidak ada motivasi lain kecuali mencari ridha-Nya. Wallahu a'lam.
(Hikmah Republika by KHA Cholil Ridwan)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*