Oct 25 2005

Dosa yang tak Terampuni

Published by at 3:12 pm under Hikmah

Allah SWT tidak hanya Maha Ghafuur (Pengampun) tapi juga Maha Afuwwun (Penghapus) terhadap segala macam dosa (QS Az-Zumar:53). Bila Dia berkenan mengampuni dosa seseorang, maka dihapuslah seluruh dosa dari diri orang tersebut, sehingga yang bersangkutan tak ubahnya orang yang tidak pernah berbuat dosa (Hadis).
Prinsip ini berlaku bagi segala jenis dosa, terkecuali kufur dalam berbagai bentuknya termasuk syirik. Orang yang berbuat syirik dan sampai wafatnya tidak bertobat, maka Allah SWT tidak akan pernah mengampuni dosanya (QS An Nisaa':48,116). Yang bersangkutan terancam berada kekal di neraka jahanam, sedetik pun tidak akan berjumpa dengan Allah SWT.
Yang dimaksud syirik di sini, tentu saja tidak sebatas menyekutukan Dzat Allah SWT. Sebab, apalah artinya bila Allah SWT di-Esa-kan dalam Dzat-Nya, tapi tidak di-Esa-kan dalam sifat, aturan dan hukum-hukum-Nya? Umumnya orang musyrik sejak zaman Nabi Nuh AS sampai saat ini meyakini Allah SWT dari sisi tauhid rububiyyah (Esanya Allah sebagai pencipta, pemelihara, dan pendidik). Hal ini membuat mereka kemudian tergelincir ke dalam kemusyrikan dari sisi tauhid uluuhiyyah (Esanya Allah sebagai Dzat satu-satunya yang berhak disembah dalam ibadah secara integral).
Termasuk syirik tentunya, yang berkeyakinan bahwa ada selain Allah SWT yang memiliki hak menetapkan aturan dan hukum. Menghalalkan yang diharamkan Allah SWT dan atau sebaliknya menetapkan undang-undang dan hukum, menghalalkan zina, riba, membuka aurat. Menetapkan hukum yang nyata-nyata bertentangan dengan hukum pidana Islam.
Setiap Mukmin harus ekstra hati-hati dalam berprinsip, berucap, bersikap, dan bertindak agar tidak terjerumus dalam kemusyrikan. Rasulullah SAW lebih jauh mengingatkan bahwa kemusyrikan tidak hanya hadir secara eksplisit, tapi juga dalam bentuk yang samar. Syirik yang samar ini membuat seseorang tidak menyadari bila dirinya musyrik.
Memang benar, kecil kemungkinan ada seorang Mukmin yang selain menyembah Allah SWT juga menyembah berhala dalam bentuk patung, misalnya. Tapi, kiranya masih ada orang yang mengaku mukmin tapi mendatangi kuburan atau tempat-tempat yang dikeramatkan lalu mereka berdoa dan meminta-minta berkah kepada arwah-arwah.
Allah SWT dengan tegas menyatakan, tidak ada satu nafs (jiwa) pun, baik manusia, jin, maupun malaikat yang dapat memastikan apa yang akan terjadi (QS Luqman:34). Rasulullah SAW sudah mengingatkan, ''Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau paranormal, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, dan ia meyakini kebenaran ramalan sang dukun, maka sungguh ia telah kufur dengan (ajaran Islam) yang diturunkan kepada Muhammad (HR Ahmad dan Al Hakim).
Ironis memang, nilai-nilai kemusyrikan itu kini bahkan telah lama masuk ke dalam rumah-rumah kita lewat berbagai tayangan di televisi. Tayangan-tayangan tersebut tidak hanya menyesatkan akidah, tapi juga membodohi umat, menggiring para pemirsa untuk tidak lagi menggunakan akal sehat dalam menghadapi realitas hidup dan kehidupan. Celakanya, tayangan-tayangan tersebut dikemas dengan memakai atribut-atribut Islam.
(Hikmah Republika by KH Athian Ali M Da'i MA)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*