Oct 24 2005

Syahr Al Shiyam

Published by at 3:11 pm under Hikmah

Seperti diketahui secara umum, al-shiyam yang berasal dari bahasa Arab (sha-wa-ma) bermakna menahan, berhenti, atau tidak bergerak. Jadi, syahr al-shiyam adalah bulan penahanan dan pengendalian diri. Inilah esensi dan substansi syahr al-shiyam yang juga sering disebut dengan bulan puasa (Ramadhan).
Bulan Ramadhan adalah bulan pengendalian diri yang selalu dirindu-rindukan kedatangannya oleh kaum Mukmin. Bulan puasa yang datang sekali dalam setahun ini kembali membuka kesempatan bagi kaum Mukmin untuk mampu menahan diri dari berbagai egoisme dan kenikmatan duniawi yang sangat terbatas masanya. Bulan Ramadhan adalah hari-hari pengendalian diri, bagi jasmani dan rohani, dari berbagai perilaku, aktivitas, sikap, dan pikiran yang tidak sejalan dengan perintah Allah SWT.
Hidup yang dihiasi dengan pengendalian diri akan mengantarkan kita pada kebahagiaan, kesuksesan, keberkahan, keamanan, ketenteraman, dan kedamaian. Tanpa pengendalian diri, kehidupan kita akan terombang-ambing berbagai godaan setan, dan dapat mendorong kita pada jurang kesesatan. Hidup tanpa disertai pengendalian diri akan terasa hampa dan tak bermakna.
Cobalah sekali-kali kita perhatikan fenomena sebagian masyarakat kita. Sudah banyak orang kaya secara material, tapi miskin secara spiritual, yang tergelincir ke dunia konsumtif dan hidup mubazir, karena mereka tidak mampu mengendalikan dirinya. Hidup hemat tampaknya telah jauh dari sebagian masyarakat kita. Menumpuk kekayaan seolah menjadi bagian integral dari kehidupan mereka.
Begitu pula, sudah banyak orang yang menduduki jabatan tinggi dan terhormat, namun tidak mampu menghentikan kerakusannya untuk berkuasa. Mereka akhirnya terjerumus ke jurang otoritarianisme dan tiranik. Hidup mengayomi, membela, dan melindungi kepentingan rakyat telah terkikis dari diri mereka. Kekuasan membuat mereka melupakan aspirasi rakyat yang dulu mendudukkannya sebagai pejabat atau penguasa.
Kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan yang tak terkendali dalam diri telah membutakan mata hati dan menutup hati nurani dari kepekaan sosial. Inilah buah dari ketidakmampuan mengendalikan diri. Pengabaian pengendalian diri dapat merusak tatanan kehidupan sosial masyarakat.
Pengendalian diri menemukan momennya pada bulan puasa Ramadhan. Hari-hari sepanjang bulan Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk membiasakan dan mengasah pengendalian diri. Intensitas pengendalian diri dari perbuatan-perbuatan terlarang akan semakin meningkat pada bulan puasa, karena pada bulan ini kaum Mukmin sangat dianjurkan untuk memperbanyak menunaikan ibadah.
Pengendalian diri tidak hanya dapat meningkatkan derajat dan kualitas ketakwaan pribadi, tetapi juga memupuk kualitas dan kuantitas kepedulian sosial. Bila puasa pada Ramadhan secara pribadi berarti memperkuat hubungan pribadi dengan Allah SWT, maka secara sosial, berpuasa mempererat hubungan sesama manusia. Islam selalu menekankan pentingnya hubungan pribadi dengan Allah dan hubungan pribadi dengan sesama manusia. Tidak akan sempurna kehidupan pribadi, bila kedua hubungan tersebut tidak terwujud dengan baik.
(Hikmah Republika by Prof Dr Azyumardi Azra MA)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*