Oct 20 2005

Puasa yang Mencerdaskan

Published by at 2:55 pm under Hikmah Rasya

Seperti terungkap dalam Surat Ali Imran ayat 14, Allah SWT menganugerahi setiap manusia nafsu dan dorongan syahwat serta memperindah hal itu dalam dirinya. Ini berguna untuk menjadi pendorong utama memelihara diri dan memelihara jenis.
Dari keduanya lahir aneka dorongan, seperti memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, keinginan untuk memiliki, dan hasrat untuk menonjol. Semuanya berhubungan erat dengan dorongan (fitrah) memelihara diri, sedangkan dorongan seksual berkaitan dengan upaya manusia memelihara jenisnya.
Setan sering kali juga memperindah hal-hal tersebut pada diri manusia, guna melengahkan manusia dari tugas kekhalifahan. Seks, jika diperindah setan, maka ia dijadikan tujuan. Cara dan dengan siapa pun, tidak lagi dihiraukan. Kecintaan pada anak, jika diperindah setan maka subjektivitas akan muncul. Atas nama cinta, orang tua membela anaknya walau salah. Harta jika dicintakan setan, maka manusia akan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Dia akan menumpuk dan menumpuk serta melupakan fungsi sosial dari harta itu.
Dengan berpuasa, kita menyadari hal tersebut dan pada gilirannya kesadaran tersebut menghiasi diri kita dengan kecerdasan spiritual dan emosional. Kecerdasan spiritual melahirkan iman serta kepekaan yang mendalam. Fungsinya mencakup hal-hal yang bersifat supranatural dan religius. Inilah yang menegaskan wujud Tuhan, melahirkan kemampuan untuk menemukan makna hidup, serta memperhalus budi pekerti.
Dimensi spiritual mengantar manusia percaya kepada yang gaib dan ini merupakan tangga yang harus dilalui untuk meningkatkan diri, dari tingkat binatang ke tingkat manusia. Dengan kecerdasan emosi, manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan membunuhnya. Emosi atau nafsu sangat kita butuhkan, sebab dia merupakan salah satu faktor yang mendorong terlaksananya tugas kekhalifahan, yakni membangun dunia sesuai dengan kehendak dan tuntunan Ilahi. Dengan kecerdasan itu, manusia akan mampu mengarahkan emosi atau nafsu ke arah positif sekaligus mengendalikannya, sehingga tidak terjerumus dalam kegiatan negatif.
Kecerdasan emosional mendorong lahirnya ketabahan dan kesabaran menghadapi segala tantangan dan ujian. Salah satu tuntunan Rasulullah SAW yang berkaitan dengan puasa adalah apabila salah seorang di antara kita berpuasa, maka janganlah dia mengucapkan kata-kata buruk, jangan juga berteriak memaki. Bila ada yang memakinya, maka hendaklah ia berucap, ''Aku sedang berpuasa.'' Itu juga berarti bahwa orang yang bersangkutan sedang mengendalikan nafsu sehingga tidak akan berbicara atau bertindak kecuali sesuai dengan tuntunan agama. Dengan demikian, kecerdasan emosional menjadikan penyandangnya berbicara dan bertindak pada saat diperlukan dan dengan kadar yang diperlukan, serta pada waktu dan tempat yang tepat.
Kecerdasan-kecerdasan itulah yang menjadikan jiwa manusia seimbang dan menjadikannya berpikir logis dan objektif, bahkan memiliki kesehatan dan keseimbangan tubuh. Karena, siapa yang berfungsi dengan baik kecerdasan emosi dan spiritualnya, maka dia akan selamat pula anggota badannya dari segala kejahatan dan selamat pula hatinya dari segala maksud buruk. Wa Allah A'lam.
(Hikmah Republika by Prof Dr M Quraish Shihab)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*