Oct 19 2005

Membangun Harapan

Published by at 2:53 pm under Hikmah

Agama Islam mengajarkan agar kita selalu penuh harap (optimistis) dan tidak boleh bersikap putus asa. Sikap putus asa hanya patut dimiliki orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak percaya kepada Alah SWT. Allah SWT berfirman, ''Hai anak-anaku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT. Sesungguhnya tiada berputus asa dari ramhat Allah, melainkan kaum yang kafir.'' (QS Yusuf:87).
Dalam terminologi sufistik, ajaran tentang sikap dan pandangan yang optimistis ini disebut raja' (sikap penuh harap). Raja', menurut Abu Al Qasim Al Ashfahani, berarti kuatnya harapan seseorang akan tergapainya sesuatu yang didambakan. Bagi kaum sufi, dambaan itu bisa berupa ampunan (maghfirah) Allah SWT dan perkenan-Nya (mardhatillah). Kuatnya harapan ini membuat kaum sufi semakin intens dalam beribadah, dan seakan tak mengenal lelah dalam melakukan riyadhah dan mujahadah demi tercapainya cita-cita (mathlub).
Sikap optimistis tidaklah datang dengan sendirinya. Kemunculannya harus didahului oleh rasa takwa yang membuat seseorang merasa perlu untuk meningkatkan volume ibadahnya kepada Allah SWT. Dengan kondisi itulah sikap optimistis tumbuh dan berkembang. Untuk itu, optimisme bukanlah impian dan angan-angan belaka. Penulis kitab Al Hikam, Ibnu 'Athaillah Al Sakandari, mengemukakan optimisme adalah suatu harapan yang disertai oleh tindakan nyata. Jika tidak, ia bukanlah optimisme, melainkan angan-angan kosong (amniyyah) yang justru dikecam oleh agama. Pendapat serupa dikemukakan pula oleh Makruf Al Markhi, pakar tasawuf. Baginya, keinginan masuk surga tanpa bekerja tergolong dosa besar. ''Harapanmu untuk mendapat rahmat dari Allah SWT yang kepada-Nya kamu sendiri tidak tunduk dan patuh adalah tindakan bodoh dan konyol,'' jelasnya.
Nabi Muhammad SAW sendiri mengecam orang-orang yang karena terbuai oleh harapan, lantas mereka malas bekerja dan beramal saleh. ''Orang yang kuat lagi cerdas, '' sabda Nabi SAW, ''adalah orang yang dapat mengendalikan diri dan bekerja untuk hari akhirat. Sedangkan orang yang lemah lagi konyol adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya, tapi menaruh berbagai harapan dan angan-angan kepada Allah SWT.''
Agar terhindar dari kekonyolan ini, kaum sufi dan orang-orang bijak sering mengingatkan kita dengan firman Allah SWT ini, ''Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya.'' (QS Al Kahfi:110). Jadi, optimisme yang dikehendaki dan yang diajarkan kaum sufi adalah optimisme yang dibangun di atas landasan syar'iy yang sangat kuat, yaitu iman dan amal saleh. Pandangan demikian, tidak saja dapat memacu produktivitas kerja, tapi juga memberikan suasana dan iklim yang sangat kondusif bagi kemajuan seseorang, baik dalam bidang fisik material maupun mental spiritual.
(Hikmah Republika by Dr H Tutty Alawiyah AS)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*