Sep 26 2005

Terbatas Pangkal Nikmat

Published by at 2:15 pm under Hikmah

Sehebat-hebat nafsu makan kita, seberapa banyak makanan yang mampu kita santap? Mulut kita mungkin bisa tetap enak makan sebanyak yang kita mau, tapi daya tampung perut kita terbatas. Berapa banyak pula kekayaan, harta benda, emas permata, yang mampu kita timbun?
Kita bisa menambah lagi daftar kerakusan nafsu dan keinginan kita untuk menikmati kekayaan dunia. Namun, Tuhan Maha Menentukan, dunia bukanlah tempat yang tepat untuk segala sesuatu yang tanpa batas. ''Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.'' (QS 54: 49).
Ukuran itu bermacam-macam, tapi intinya menyangkut satu keputusan dari Allah yang tak bisa ditawar (mutlak), yaitu batas. Umur manusia punya batas, yang oleh Alquran disebut ajal. Kekuasaan, kepandaian, kemampuan, kedigdayaan, kekayaan, kegunaan, dan apa pun saja di luar Dzat dan Kehendak Allah, punya batas. Kita sering menyebutnya takdir.
Takdir (taqdiir) dalam bahasa Arab berasal dari kata qodaro. Dalam bahasa Indonesia biasa juga ditulis qodar, qadar, atau kadar. Artinya, ukuran, ketetapan, ketentuan dari Tuhan. Oleh para penganut filsafat eksistensialisme, takdir ini sering dipertentangkan dengan kebebasan. Mengakui takdir berarti menerima kenyataan bahwa hidup ini tidak bebas.
Dalam filsafat tauhid, batas (takdir) ini justru sebagai rahmat Allah yang harus kita terima dengan ikhlas. Keikhlasan ini perbuatan mulia, yang akan mendekatkan diri kita pada Allah. Ikhlas bahwa kita memang sepenuhnya ditakdirkan sebagai manusia yang dibatasi oleh berbagai ketentuan dari Sang Pencipta.
Di balik ketentuan itu tersembunyi kenikmatan lain, yang juga datang dari Allah. Misalnya, manusia hanya diberi tempat hidup di bumi, bukan di dasar laut atau di planet-planet lain. ''Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.'' (QS 2: 36).
Lagi-lagi, dalam kesenangan hidup pun, hanya selama waktu yang terbatas. Tidak ikhlaskah kita atau merasa kurang bebas ditakdirkan sebagai manusia, bukan binatang, pepohonan, atau benda-benda lain? Tidak ikhlaskah kita diberi kemampuan makan dengan mulut, melihat dengan mata, berjalan dengan kaki, diberi nalar, indera, dan juga perasaan?
Tak terhitung rahmat Allah yang diberikan kepada kita, tapi semuanya dalam batas-batas tertentu. Makan, misalnya, tidak hanya terasa nikmat, tapi juga menyehatkan, justru karena terbatas. Kita hapal sekali hadis Rasulullah tentang kenikmatan dan kesehatan makan; ''Makanlah di saat lapar dan berhentilah sebelum kenyang.'' (Bukhori-Muslim).
Krisis energi yang belakangan ini membuat kita panik, gelisah, dan juga geram, adalah salah satu sinyal bahwa masa keberlimpahan minyak bumi justru telah membuat kita lalai pada keterbatasan sumber energi. Jangankan minyak, air dan udara bersih yang semula kita anggap bisa kita nikmati secara berlimpah-limpah, sekarang menjadi barang yang terbatas.
(Hikmah Republika by EH Kartanegara)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*