Sep 23 2005

Berbagi

Published by at 2:13 pm under Hikmah

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa suatu hari seseorang menghadap Rasulullah SAW. Dia berterus terang bahwa dirinya sangat lapar dan tak punya makanan. Maka, Rasulullah SAW membawanya kepada salah satu istri beliau, tetapi beliau tidak mendapati sesuatu selain air.
Rasulullah SAW pun membawanya kepada istri-istri yang lain, tapi mereka memberikan jawaban yang kurang lebih sama, bahwa tak ada makanan yang bisa diberikan kepada orang itu. Akhirnya Rasulullah SAW membawanya ke tempat para sahabat. Kepada mereka beliau bertanya, ''Siapa yang mau menjamunya? Mudah-mudahan Allah SWT memberi rahmat.''
Salah seorang dari kalangan Anshar, yang biasa dipanggil Abu Thalhah, bangkit seraya berkata, ''Saya ya Rasulullah.'' Maka, dibawalah orang itu oleh Abu Thalhah ke rumahnya. Sampai di rumah, Abu Thalhah berkata kepada istrinya, ''Apakah engkau punya sesuatu untuk diberikan kepadanya?'' Sang istri menjawab, ''Tidak, kecuali sedikit makanan buat anak-anak.''
Lalu Abu Thalhah meminta istrinya untuk membujuk anak-anak agar tidur lebih cepat. Setelah itu disuruh istrinya untuk menyuguhkan makanan itu kepada tamunya. ''Jika tamu kita sudah masuk, tampakkanlah kepadanya seolah-olah kita juga ikut makan. Pura-puralah memperbaiki lampu dan padamkan,'' kata Abu Thalhah. Sang istri pun mengikuti perintah itu.
Tamu itu pun masuk. Kepadanya dihidangkan makanan sekadarnya, dan dia memakannya dengan lahap. Sementara Abu Thalhah dan istrinya menemaninya dengan bertindak seolah-olah ikut makan bersama tamu, meski yang dipegangnya itu hanya wadah yang kosong. Malam itu, Abu Thalhah sekeluarga pun tidur dalam kondisi lapar karena makanan yang tersedia diberikan kepada tamunya.
Keesokan harinya Abu Thalhah bercerita kepada Rasulullah SAW tentang kejadian yang dialaminya bersama tamu itu. Maka beliau bersabda, ''Allah terkagum-kagum karena perbuatan si Fulan dan Fulanah.''Inilah model persaudaraan yang telah ditanamkan Rasulullah SAW dan dipraktikkan oleh para sahabatnya. Ukhuwah (persaudaraan) yang telah menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar, adalah persaudaraan yang sungguh memesona. Sistem persaudaraan mereka telah mencapai puncaknya berupa itsar atau sikap lebih mengutamakan saudaranya ketimbang diri sendiri. Persaudaraan Muhajirin dan Anshar ini digambarkan oleh Allah SWT dalam Surat Al Hasyr ayat 9.
Persaudaraan mereka, patut sekali untuk kita teladani. Nilai semangat untuk berbagi ini akan sangat terasa di tengah kondisi bangsa yang makin memprihatinkan, dan musibah yang datang silih berganti. Semangat untuk saling berbagi ini juga akan sangat meringankan beban orang-orang miskin yang kian hari kian bertambah. Mereka adalah saudara-saudara kita. ''Dan mereka berikan makanan yang disenangi kepada orang miskin, anak yatim, dan para tawanan. Kami tidak berikan makanan kepadamu melainkan karena Allah. Kami tidak mengharapkan dari kamu balasan, tidak pula ucapan terima kasih.'' (QS Alinsan:8-9).
(Hikmah Republika by Dedi Nugraha)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*