Sep 22 2005

Manusia

Published by at 2:13 pm under Hikmah

Dalam Alquran banyak disebutkan bahwa manusia berasal dari tanah. Dari tanah ia diciptakan, kemudian dikembalikan, kemudian dikeluarkan untuk kehidupan baru (QS Thaha:55). Tanah adalah ibarat dari ketiadaan. Ketiadaan jati diri, ketiadaan tanggung jawab. Ia hanyalah bahan untuk sebuah bentuk, yang sejak saat itu ia menjadi punya rasa bahkan tanggung jawab.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa kelak di yaumil hisab semua makhluk akan dimintai pertanggungjawaban terhadap semua amalnya di dunia, termasuk hewan. Ketika hewan dihisab dengan adil oleh Allah SWT, Dia berfirman pada hewan itu, ''Jadilah engkau tanah.'' Demi melihat hal itu maka orang kafir berkata, ''Seandainya aku menjadi tanah, sehingga tidak disiksa.''
Dari tanah, Allah SWT memprosesnya menjadi sosok manusia yang diberi akal, nafsu, dan perasaan. Akal, nafsu, dan perasaan inilah yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lain yang diciptakan Allah SWT. Namun, keberadaan ketiga unsur tersebut dalam diri manusia sangatlah fluktuatif. Adakalanya manusia kehilangan ketiga unsur tersebut, sehingga ia hanyalah seonggok daging yang mungkin lebih rendah harganya dibandingkan dengan daging sapi yang dijual di pasaran.
Kadang nafsu yang lebih mendominasi daging ini, sehingga ia tidak ubahnya seperti hewan bahkan lebih hina lagi. Ia mempunyai hati tapi tidak mencerna, mempunyai mata tapi tidak melihat, mempunyai telinga tapi tidak mendengar ajaran Allah SWT. (QS Ala'raf:179)Ketika ia menggunakan ketiga unsur tadi secara proporsional, maka ia menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Ia shalat tapi juga tidur, puasa tapi juga makan minum, zakat tapi juga berhias diri.
Ketika ia memberikan porsi lebih dalam olah rasa, kejernihan hati, dan ketinggian iman, maka ia akan menjadi manusia yang melampaui manusia biasa. Ia tidak memasukkan harta dalam hatinya. Hatinya penuh dengan harapan ridha Ilahi dan Rasul-Nya. Dialah orang yang disaksikan ketulusan imannya oleh Allah SWT (QS Alhasyr:8). Ia lebih mementingkan kebahagiaan orang lain daripada dirinya sendiri. Dialah orang yang dijamin keberuntungannya.
Ketika ia tidak bertutur kecuali yang benar (QS Annajm:3). Ia memandang dengan mata kebenaran. Mendengar dengan telinga yang memaknai kebenaran. Shalat, ibadah, hidup, dan mati hanya diserahkan kepada Zat Yang Mahabenar. Maka, ia menjadi lebih mulia daripada malaikat, sang makhluk yang tidak pernah berbuat maksiat.
Kendati, tercipta dari tanah, manusia yang memberdayakan ketiga unsur dasarnya itu akan selalu hidup dan mendapat cahaya Tuhannya. Al Jurjani menyebut manusia yang seperti ini dengan sebutan insan kamil (manusia yang sempurna). Manusia yang seperti ini, akalnya selalu dijiwai ummul kitab, dan jiwanya tidak tersentuh kehinaan serta najis. Manusia memang makhluk yang unik. Ia bisa lebih rendah dari binatang, lebih jahat dari setan, tapi bisa lebih mulia dari malaikat. Manusia itu sendirilah yang bisa memilih status kehidupannya di hadapan Allah SWT.
(Hikmah Republika by M Saifuddin)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*