Aug 25 2005

Keimanan dan Kesejahteraan

Published by at 1:20 pm under Hikmah

Shuhaib ibn Sinan termasuk salah seorang sahabat yang amat disayangi Rasulullah SAW. Ia terkenal sebagai saudagar kaya yang jujur di Kota Makkah. Namun kemudian, ia memilih menyerahkan semua kekayaan yang berlimpah tersebut kepada orang-orang Quraisy yang mengejarnya, agar ia dibiarkan lolos menyusul Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Setibanya di Madinah, ia bertemu Rasulullah SAW yang sedang dikelilingi para sahabat. Maka, saat itu pula turunlah firman Allah SWT, ''Dan di antara manusia ada yang bersedia menebus dirinya demi mengharapkan keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya.'' (QS Albaqarah [2]: 207). Selain pemurah terhadap diri sendiri, Shuhaib juga begitu dermawan kepada orang lain. Tidak tanggung-tanggung, tunjangan yang diperolehnya dari baitul maal dikeluarkan semuanya untuk membantu pihak yang kesusahan dan menolong fakir miskin dari kesengsaraan.
Sampai-sampai kemurahannya yang amat besar itu membuat Umar bin Khathab memberinya peringatan. ''Saya lihat kamu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas,'' tutur Umar kepada Suhaib. Jawab Shuhaib, ''Sebab saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sebaik-baik kalian ialah yang suka memberi makanan.'' Selain untuk menyelamatkan dan memelihara keimanan, seperti dalam kisah Shuhaib tersebut, rezeki yang diperoleh dapat pula dipergunakan untuk mewujudkan kesejahteraan. Dengan menghidupkan semangat lebih banyak memberi daripada menikmati sendiri, bisa lebih banyak lagi orang miskin yang akan terpenuhi berbagai kebutuhan hidupnya.
Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, selama memungkinkan, distribusi kekayaan secara sukarela sebagaimana yang dijalankan Shuhaib penting dikembangkan di tengah-tengah masyarakat. Shuhaib mendermakan hartanya karena terdorong oleh kewajiban moral agama, bukan disebabkan oleh tekanan kekuasaan negara.
Tanpa pembagian secara sukarela, menurut Al-Ghazali, akan muncul dua persoalan laten, yakni sikap boros dan kikir. Yang pertama akan mengakibatkan perbuatan-perbuatan jahat dan yang kedua mengakibatkan penimbunan uang. Alhasil, sikap boros dan kikir akan menyebabkan harta kekayaan tidak terdistribusi dengan sempurna yang menjadi penyebab semakin lebarnya kesenjangan masyarakat.
Sebaliknya, pemberian langsung secara sukarela, selain bisa lebih tepat sasaran dan menghindari kesalahan administratif, juga dapat merekatkan tali persaudaraan. Rasulullah SAW bersabda, ''Orang yang bermurah hati dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan surga.'' (HR Tirmudzi) Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW menekankan agar kelebihan harta dipergunakan untuk membantu kerabat dekat terlebih dulu, lalu tetangga di kiri dan kanan. Jika semua langkah itu ditempuh, maka kesejahteraan dan sehatnya perekonomian insya Allah tak akan terus-menerus dalam penantian. Wallahu 'alam.

(Hikmah Republika by Zainal Alimuslim)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*