Aug 20 2005

Berbaik Sangka

Published by at 1:16 pm under Hikmah

Allah SWT berfirman, ''Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah sikap prasangka. Karena, kebanyakan prasangka itu berakibat pada timbulnya dosa. Jangan kalian memata-matai dan menggunjing orang lain. Apakah kalian senang jika salah satu di antara kalian memakan bangkai saudaranya sendiri? Tentunya kalian tidak akan mau. Maka dari itu, bertakwalah kepada Allah.
Karena, Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.'' (Al-Hujurat: 12)Melalui ayat tersebut, Allah SWT memberikan pengajaran penting dalam membina keharmonisan hubungan sesama manusia. Hubungan timbal balik yang ramah, bersahaja, tenang, damai, dan penuh dengan nuansa kekeluargaan itulah yang harus dikembangkan. Sebagai bagian dari makhluk Allah SWT, sudah semestinya manusia bersikap positif dalam melihat sesuatu di sekelilingnya. Dengan terus bersikap positif, manusia akan mampu mengembangkan segala potensi dirinya seoptimal mungkin.
Orang model ini tidak akan pernah menyibukkan diri untuk menilai kesalahan orang lain. Baginya, diri sendiri adalah hal pertama dan utama yang harus dikontrol dan selalu diperbaiki. Perbuatannya tidak akan disangkutpautkan dengan orang lain. Waktunya terus diisi dengan muhasabah (introspeksi). Inilah yang diajarkan oleh Alquran. Allah SWT menyeru kepada orang-orang yang beriman agar mengembangkan sikap husnudzan (berbaik sangka), dan melarang sikap mencurigai juga menggunjing orang lain. Karena, segala bentuk perpecahan, permusuhan, dan rasa dendam disulut oleh sikap negatif dalam memandang orang lain.
Sikap curiga pada hakikatnya timbul dari sikap negatif dalam memandang orang lain. Menggunjing, pada hakikatnya, juga bagian dari sikap mencurigai yang dilarang dalam Islam. Menjadikan orang lain sebagai bahan perbincangan, gosip, dan gunjingan, tanpa melihat kenyataan sesungguhnya, sangatlah berbahaya. Hal-hal ini pada suatu saat bisa berubah menjadi fitnah, yaitu menuduh orang lain, padahal ia tidak melakukan sesuatu yang dituduhkan.
Dalam Alquran, fitnah dinilai sebagai dosa yang lebih besar daripada membunuh (Al-Baqarah: 217). Pembunuhan fisik jelas akibatnya, yaitu kematian. Sedangkan, fitnah adalah pembunuhan karakter dan moral manusia. Nama dan martabatnya akan tercoreng dan dianggap rendah. Itulah kematian karakter yang sangat berbahaya. Husnudzan sebagai bagian dari ketakwaan adalah pilihan mutlak yang harus diambil oleh setiap manusia. Kehidupan umat manusia akan berjalan harmonis jika setiap individu selalu mengembangkan husnudzan. Namun sebaliknya, kehidupan akan berubah menjadi kacau balau jika umat manusia mempraktikkan sikap-sikap buruk sangka.
Baik sangka merupakan bagian dari akhlak mulia yang Baginda Rasulullah SAW tekankan. Beliau, sepanjang hayatnya, tidak pernah berburuk sangka kepada umatnya, bahkan kepada orang yang jelas-jelas menyakitinya. Justru dengan husnudzan-nya, banyak orang yang bersimpati dan akhirnya masuk Islam. Wallahu a'lam.
(Hikmah Republika by Tri Nasirotun)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*