Aug 15 2005

Menjaga Allah

Published by at 1:12 pm under Hikmah

Sejak masih sangat kanak-kanak, Ibnu Abbas sudah menjalin persahabatan sangat khusus dengan Rasulullah Muhammad SAW. Persahabatan itu tidak terbatas pada hubungan darah, cinta, kasih, dan sayang antara paman dan keponakan. Lebih jauh lagi, hubungan mereka terjalin akrab dalam urusan yang bersifat batiniah, aqliyah, amaliah, dan sekaligus aqidah.
Sangat banyak nasihat, ajaran, dan yang paling penting adalah teladan Rasulullah SAW, yang kemudian menjadi hadis dan sirah Nabi yang diwariskan kepada Ibnu Abbas. Salah satu di antaranya adalah resep keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.
''Ihfadhillah yahfadhka,'' pesan Rasulullah SAW kepada Ibnu Abbas saat keponakannya itu masih berumur 10 tahun. ''Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu.''
Sejak manusia masih berupa ruh, lalu ditiupkan ke rahim ibu, dihidupkan di dunia, sampai dipanggil kembali ke alam baka, Allah tak pernah lepas menjaga ciptaan-Nya. Inilah sebabnya mengapa manusia tidak perlu merasa hidup sendirian, kesepian, cemas, atau takut menjalani hidup dengan berbagai problem dunia ini. ''Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.'' Firman Allah ini tertuang dalam Surat Yusuf ayat 64.
Tapi, kapan manusia membalas kebaikan Allah itu? ''Jika kamu menjaga Allah di kala kamu senang, Allah akan menjagamu di kala kamu sakit atau menderita,'' tutur Muhammad menasihati Ibnu Abbas. Ini adalah nasihat yang sangat halus yang mendorong hambanya untuk senantiasa dekat dan terus menyadari kekuasaan Sang Khalik.
Salah satu cara menjaga Allah, kata Nabi SAW, adalah meminta segala apa pun hanya kepada Allah. Meminta rezeki, kekuatan, ketenangan, keberanian, pertolongan, pengetahuan, perlindungan, solusi berbagai problem, dan segala urusan. Selain Allah, cuma fakir, lemah, nisbi, bahkan menjerumuskan. Karena itu, tidak sepantasnya ada seorang hamba yang meminta atau bahkan menghamba-hamba kepada selain Allah SWT. Bukan hanya tidak pantas, perbuatan seperti ini bahkan bisa jatuh pada perbuatan syirik yang dosanya tidak terampuni.
Secara singkat, dalam konteks segala problem kehidupan kita, menjaga Allah adalah kesadaran keimanan kita untuk melibatkan Allah dalam segala urusan, baik urusan dunia maupun akhirat. Laku sosial dalam kehidupan sehari-hari, secara sengaja atau pura-pura khilaf, kadang kala kita justru mengabaikan peran Allah.
Dalam urusan jabatan atau isi dompet, misalnya, kita melakukan tindakan yang malah membuat Allah marah. Sudah tahu harta orang lain, tega diembat juga. Terlalu banyak contoh perbuatan kita yang bukan menjaga Allah, melainkan justru membiarkan musuh Allah berkuasa dalam diri kita. Herankah jika kita kemudian terlilit dan terpelintir oleh banyak sekali problem yang sesungguhnya kita sendiri yang membuatnya. Semua persoalan itu baru bisa terurai jika proses penyelesaiannya selalu disandarkan pada kesadaran akan eksistensi Allah SWT.
(Hikmah Republika by EH Kartanegara)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*