Jul 29 2005

Sadar Posisi

Published by at 12:43 pm under Hikmah

Ketika manusia ada di rahim sang ibu, Allah telah mengatur kehidupan di dalam kandungan itu. Dengan apa dia memperoleh makanan, bertahan dari benturan, bertumbuh, dan berkembang, sampai kapan harus keluar melalui jalan yang telah ditentukan-Nya. Tak pernah ada yang protes dengan aturan Ilahi ini. Semua tunduk dan patuh atas aturan-Nya.
Sayang, itu tak berlanjut ketika manusia hadir di dunia. Banyak manusia yang lupa bahkan membangkang pada aturan-Nya. Mereka menganggap dirinya mampu mengatur dunia ini dengan akal yang dikaruniakan Allah kepadanya. Seolah-olah mereka mengetahui segala hal yang terjadi di dunia ini. Muncullah kemudian sikap hidup atas dasar kebebasan. Bebas berperilaku, bebas berbicara, bebas memiliki, dan bebas beragama. Akhirnya muncul pula jargon 'semau gue', dan 'terserah masyarakat'. Tidak ada patokan yang pasti.
Fenomena ini telah melahirkan kerusakan di muka bumi. Pola kontrol masyarakat terhadap perilaku menyimpang akan hilang karena alasan 'itu kan urusan masing-masing'. Dengan alasan urusan pribadi, seks bebas marak, homoseksual dilegalkan, perjudian dan pelacuran dilokalisasi, miras dibebaskan, dan berbagai bentuk kemaksiatan lain tak perlu dikekang asal tak mengganggu orang lain.
Dengan alasan kebebasan kepemilikan, orang boleh menguasai semua kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. Dengan alasan bebas berbicara, menghina Nabi pun tak boleh dilarang. Dengan alasan bebas beragama, orang Islam pun boleh murtad, bahkan membuat agama sendiri. Bila ini berlangsung terus, dapat dipastikan akan hadir masyarakat yang rusak. Inilah kejahiliyahan yang terakumulasi dari berbagai zaman.
Memang, Allah memberikan manusia akal untuk berpikir. Di sisi lain, Allah menurunkan aturan kehidupan. Manusia yang sadar akan jati dirinya sebagai ciptaan, seharusnya mampu mengarahkan akalnya sesuai dengan aturan-Nya. Ibarat di dalam rahim, manusia pun akan keluar dari dunia pada waktunya melalui pintu yang sudah pasti yakni mati. Oleh karena itu, seharusnya manusia menstandardisasi seluruh amal perbuatannya berdasarkan aturan Allah, bukan atas maunya sendiri atau maunya masyarakat. Mereka menyadari bahwa Allah Dzat Yang Mahatahu, Sang Pencipta manusia.
''Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.'' (QS Al-Baqarah [2]: 216). Begitulah isyarat yang Allah berikan agar manusia sadar bahwa dirinya hidup dengan banyak sekali keterbatasan. Tidak sepantasnya, manusia yang serba terbatas ini berbuat dengan mengabaikan hukum dan kaidah yang telah Allah SWT tetapkan.
Karena itulah, setiap manusia senantiasa dituntut untuk menyadari posisi dirinya. Manusia yang punya kesadaran seperti ini akan senantiasa tunduk pada syariat Islam, menjauhi segala bentuk kejahiliyahan, dan rela berkorban demi tegaknya Islam. Wallahu a'lam.
(Hikmah Republika by Mujiyanto)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*