Jul 26 2005

Nilai Ulama

Published by at 12:41 pm under Hikmah

Di dalam Alquran, kata 'ulama' secara eksplisit dinyatakan dalam dua ayat. Pertama, dalam QS Asy-Syu'ara ayat 197 yang berbunyi, ''Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?'' Kedua, disebut dalam QS Fathir ayat 28, ''Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.''Ayat pertama meskipun berkaitan dengan Bani Israil menunjukkan bahwa seseorang itu dikatakan ulama apabila memiliki keluasan dan kedalaman ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wahyu dan sunah Rasul-Nya, tempat orang bertanya dan meminta fatwa. Ayat kedua menggambarkan secara jelas bahwa ulama itu adalah orang-orang yang memiliki rasa khaasysyah (takut dan cinta) yang tinggi kepada Allah SWT juga senantiasa memelihara hubungan dengan-Nya. Fatwa dan ilmu yang disampaikannya kepada umat, mencerminkan takwanya kepada Allah SWT.
Dalam menafsirkan ayat ini, Said Hawwa mengemukakan pendapat Ibn Mas'ud, bahwa ulama itu bukanlah semata-mata ditentukan berdasar keluasan ilmunya, akan tetapi yang lebih esensial adalah tingkat ketakwaannya kepada Allah SWT. Perpaduan antara ilmu dan takwa itulah yang akan mengantarkannya pada derajat ahli waris para nabi. Sementara itu, hadis nabi yang menerangkan tentang ulama, hampir seluruhnya berkaitan dengan akhlak, kepribadian, karakter, dan sikapnya terhadap hak dan batil, sikapnya terhadap umat, dan sikapnya terhadap kekuasaan. Rasulullah SAW bersabda, ''Ulama itu adalah panutan dan pemimpin umat. Barangsiapa yang selalu bergaul dengannya, maka akan bertambah kebaikannya.'' (HR Jamaah).
Dalam hadis lain riwayat Anas Ibn Malik, beliau bersabda, ''Ulama itu adalah orang-orang yang dipercaya oleh para rasul, selama tidak mukhallatah (dikendalikan) oleh penguasa yang zalim dan selama tidak menjadikan materi sebagai tujuan hidupnya. Apabila mereka dikendalikan oleh penguasa yang zalim, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada para rasul. Jauhilah mereka itu.'' Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang problem kehidupannya semakin kompleks, kehadiran ulama kepercayaan para rasul yang mewakafkan seluruh waktunya untuk kepentingan masyarakat merupakan suatu keniscayaan.
Ulama dituntut untuk selalu berpihak pada kejujuran, kebenaran, keadilan, dan kepentingan kaum dhuafa. Kehadiran ulama yang seperti itu, sama pentingnya dengan kehadiran penguasa yang adil, para aghniya yang dermawan, kaum fuqara yang terpuji akhlaknya, serta birokrat, dan para pegawai yang jujur dan amanah. Semoga para ulama kita termasuk kategori ulama ahli waris nabi dan kepercayaan para rasul, sehingga masyarakat pun bisa merasakan nilai-nilai positif yang mereka ajarkan. Wallahu a'lam.
(Hikmah Republika by KH Didin Hafidhuddin )

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*