Jul 22 2005

Berkelakar

Published by at 12:38 pm under Hikmah

Untuk menghindari stres karena beratnya kehidupan, banyak orang membuat lelucon atau kelakar. Bahkan, dalam forum-forum ilmiah seperti seminar dan diskusi tak jarang para pemrasaran membikin joke yang membuat para hadirin tertawa ria. Belakangan ini banyak kelakar atau joke yang dikirim dan disebarkan melalui jaringan pesan singkat, SMS.
Pada dasarnya, berkelakar atau bikin joke itu boleh-boleh saja, bahkan terkadang diperlukan, asalkan dalam batas-batas yang wajar. Rasulullah SAW sendiri pernah berkelakar meski tidak sering dan tidak bohong. Sabda Nabi, ''Aku berkelakar, tetapi aku tidak berkata kecuali benar.''
Dalam riwayat Tirmidzi yang sangat masyhur diceritakan, seorang nenek-nenek datang menemui Nabi. Ia meminta Nabi mendoakannya agar ia masuk surga. Kata Nabi, ''Tidak ada nenek-nenek masuk surga.'' Nenek-nenek itu pergi sambil menangis. Lalu, Nabi menjelaskan kepadanya bahwa ketika ia masuk surga nanti, ia tidak nenek-nenek lagi, tetapi kembali muda belia. Beliau kemudian membacakan ayat ini, ''Sesungguhnya Kami menjadikan mereka dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, dan berumur sebaya.'' (Al-Waqi'ah: 35-37).
Dengan memperhatikan hadis-hadis dan petunjuk Nabi dalam soal ini, Abdullah Nasih 'Ulwan, pengarang kitab Tarbiyyat Al-Awlad menetapkan tiga batasan yang tak boleh dilangar dalam membuat berkelakar.
Pertama, tidak boleh terlalu sering dan berlebih-lebihan. Bercanda dengan sanak keluarga, sahabat, dan handai taulan adalah baik. Tapi, bila dilakukan terlalu sering dan secara berlebihan, maka hal itu menjadi kurang baik. Banyak canda membuat seseorang banyak tertawa. Banyak tertawa membuat hati tidak peka, tidak serius, dan dapat mengurangi kewibawaan orang yang bersangkutan.
Kedua, canda dan kelakar tidak boleh dilakukan dengan maksud untuk menghina dan menyakiti orang lain. Diceritakan, Nabi dan beberapa orang sahabat sedang dalam perjalanan. Salah seorang dari mereka tertidur. Lantas, dengan maksud bercanda, temannya menarik tambang yang dibawa orang yang tertidur itu hingga ia kaget sekali. Lalu Rasulullah SAW menegur sahabat yang iseng itu. Sabdanya, ''Tidak halal bagi seorang Muslim melakukan sesuatu yang menyakitkan saudaranya orang Islam.'' (HR Abu Daud).
Ketiga, canda atau kelakar tidak boleh dilakukan dengan membuat cerita-cerita palsu atau kebohongan. Sering terjadi, lelucon atau kelakar dibuat-buat sekadar untuk membuat orang lain tertawa-tawa. Ini jelas tidak boleh dilakukan. Nabi SAW bersabda, ''Celaka orang yang membikin cerita-cerita bohong untuk bahan tertawaan.'' ''Celaka dia, celaka dia," sambungnya. (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa'i).
Jadi, kita tidak boleh bercanda atau berkelakar kelewat batas. Selain kurang mendidik, hal ini juga kurang produktif. Imam Hasan Al-Banna, dalam sepuluh pesannya (Washaya Al-'Asyrah) mengingatkan kaum Muslim agar tidak banyak bercanda. Karena, menurut Hasan, mental pejuang itu serius dan penuh kesungguhan. Al-hasil, kita tidak perlu buang-buang waktu dengan kelakar dan lelucon yang tidak bermanfaat. Wallahu A'lam.
(Hikmah Republika by A Ilyas Ismail)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*